MAKASSAR, UNHAS.TV - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mendorong mahasiswa di Makassar menerapkan sejumlah langkah perlindungan diri.
Mereka mengurangi aktivitas di luar ruangan, mengenakan masker, hingga menutup pintu dan jendela rumah untuk mengurangi masuknya asap. Namun, kewajiban mengikuti perkuliahan membuat upaya menghindari paparan asap tidak selalu mudah dilakukan.
Carissa Bilibina Anirwa, mahasiswa di Makassar, mengatakan dirinya membatasi kegiatan di luar ruangan jika tidak memiliki keperluan mendesak. Ketika harus menghadiri perkuliahan, ia tetap menggunakan masker dan menghindari lokasi yang memiliki paparan asap cukup tinggi.
Selain masker, Carissa membawa obat-obatan sebagai langkah antisipasi untuk menjaga kondisi kesehatannya selama beraktivitas. Ia juga berusaha mengurangi paparan asap dengan menyesuaikan kebiasaan di tempat tinggal.
“Baik bagi saya, saya biasanya tutup pintu agar mengurangi asap yang masuk ke dalam dan juga saya mungkin terus membersihkan untuk menghindari adanya debu yang bertumpuk,” kata Carissa.
Menurut dia, menjaga kebersihan ruangan dan membatasi masuknya udara yang tercemar menjadi bagian dari upayanya menghadapi kondisi tersebut.
Meski demikian, kegiatan akademik tetap menjadi tantangan karena mahasiswa harus berpindah dari tempat tinggal ke kampus dan menjalani aktivitas di luar ruangan.
Carissa mengatakan penggunaan masker menjadi salah satu langkah yang terus dilakukannya selama kondisi udara belum membaik. Ia memilih tetap menjalankan perkuliahan dengan menerapkan perlindungan diri daripada mengabaikan potensi paparan asap.
“Tentunya saya karena tetap mengikuti perkuliahan ini tentunya saya otomatis akan melakukan aktivitas di luar ruangan. Nah, jadi itu menjadi suatu tantangan bagi saya karena tentunya saya akan menghadapi yang namanya asap, tetapi saya terus akan menggunakan masker sampai asapnya itu menghilang,” ujarnya.
Informasi Digital dan Tantangan Perlindungan Diri
Untuk mengetahui perkembangan kondisi udara dan cara melindungi diri, Carissa memanfaatkan media sosial serta berbagai sumber informasi digital.
Namun, ia tidak langsung menerima semua informasi yang ditemukan. Ia berusaha memeriksa kembali kebenaran informasi sebelum menjadikannya sebagai pedoman.
Di tengah banyaknya informasi yang beredar, langkah tersebut dinilai penting agar masyarakat tidak keliru memahami kondisi lingkungan maupun cara mengurangi risiko paparan asap.
Carissa juga menilai masker medis sebagai salah satu perlengkapan yang perlu digunakan ketika harus beraktivitas di luar ruangan.
Mahasiswa lainnya, Ahmad Fahrezi Ishak, juga memilih menggunakan masker saat berkendara dan menjalani kegiatan di luar ruangan. Ia mengatakan aktivitas mahasiswa yang cukup padat membuat perlindungan diri perlu menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari.
“Sebenarnya sih kami mahasiswa banyak aktivitas ya di luar, tapi salah satu caranya adalah tetap menggunakan masker ketika berada di wilayah outdoor,” kata Fahrezi.
Ia mengaku memperoleh informasi mengenai kabut asap dan langkah perlindungan diri melalui media sosial, khususnya Instagram. Menurut dia, informasi digital memudahkan masyarakat mengikuti perkembangan situasi dan mengetahui imbauan yang disampaikan kepada publik.
Fahrezi mengatakan dirinya sudah terbiasa menggunakan masker ketika berkendara. Namun, mengenakan masker dalam aktivitas lain masih terasa kurang nyaman karena ia belum sepenuhnya terbiasa dengan kebiasaan tersebut.
“Kendalanya mungkin agak tidak terbiasa menggunakan masker. Jadi, beraktivitas pun tidak seperti biasanya,” ujarnya.
Meski begitu, ia tetap berusaha mengenakan masker ketika berada di luar ruangan. Fahrezi juga memperhatikan kenyamanan dan penampilan saat memilih masker yang digunakan sehari-hari.
Perlunya Dukungan bagi Masyarakat
Fahrezi menilai perlindungan dari paparan kabut asap tidak cukup hanya mengandalkan kesadaran individu. Menurut dia, dukungan fasilitas dari pihak berwenang juga diperlukan agar masyarakat dapat menerapkan langkah perlindungan dengan lebih mudah.
Ia mengusulkan penyediaan masker gratis, terutama bagi warga yang memiliki keterbatasan ekonomi. Sebab, tidak semua orang mampu membeli perlengkapan perlindungan secara mandiri ketika kualitas udara memburuk.
“Kalau saya pribadi, memang setiap menggunakan kendaraan selalu menggunakan masker. Mungkin bantuan fasilitas penyediaan masker, karena kita tahu bahwa tidak semua orang memiliki ekonomi yang sama,” kata Fahrezi.
Ia berharap pihak terkait dapat mempertimbangkan bantuan tersebut sehingga masyarakat dari berbagai latar belakang ekonomi memiliki kesempatan yang sama untuk melindungi diri.
Pengalaman kedua mahasiswa itu memperlihatkan sejumlah penyesuaian yang dilakukan untuk menghadapi kabut asap.
Penggunaan masker, pembatasan aktivitas luar ruangan, pemeliharaan kebersihan rumah, serta pemeriksaan informasi menjadi bagian dari upaya mereka mengurangi paparan.
Di sisi lain, akses terhadap perlengkapan perlindungan dan informasi yang akurat tetap menjadi kebutuhan penting.
Mahasiswa yang harus menjalani perkuliahan dan masyarakat yang bekerja di luar ruangan membutuhkan dukungan agar dapat mengambil langkah yang sesuai selama kondisi udara belum membaik.
(Venny Septiani Semuel / Unhas TV)
KABUT ASAP - Mahasiswa di Makassar, Caraissa Bilibina Anirwa dan Ahmad Fahrezi Ishak, menerapkan perlindungan diri dari kabut asap akibat karhutla pada Oktober 2026 dengan memakai masker, membatasi aktivitas luar ruangan, dan menjaga kebersihan rumah untuk mengurangi paparan asap. (Unhas TV / Venny Septiani)







-300x225.webp)
