MAKASSAR, UNHAS.TV - Asap dan polusi udara yang menyelimuti wilayah Makassar mulai mengganggu aktivitas mahasiswa. Keluhan yang muncul beragam, mulai dari mata perih dan memerah hingga radang tenggorokan dan sesak napas.
Kondisi ini dirasakan mahasiswa yang harus bepergian ke kampus dan beraktivitas di luar ruangan di tengah memburuknya kualitas udara.
Farel Dy Stankovic, mahasiswa Ilmu Komunikasi Uninversitas Hasanuddin (Unhas), mengaku mengalami iritasi mata, radang tenggorokan, dan sesak napas setelah terpapar asap.
Keluhan pada matanya semakin terasa ketika berkendara menggunakan sepeda motor, terutama dalam tiga hari terakhir di pertengahan Oktober, saat asap kian menebal.
“Yang paling sering itu karena tiga hari terakhir asapnya makin menebal, mata saya jadi teriritasi dan merah. Saat bawa motor, mata jadi makin perih,” kata Farel.
Gangguan tersebut turut membatasi aktivitasnya. Farel mengaku tidak lagi leluasa menghabiskan waktu di luar ruangan karena kondisi mata dan pernapasannya terganggu. Aktivitas yang mengharuskannya bepergian pun menjadi lebih sulit dilakukan.
Untuk mengurangi paparan, Farel mulai menggunakan masker ketika berada di luar ruangan. Ia juga mengganti lensa kontak dengan kacamata agar matanya tidak terpapar langsung oleh udara tercemar.
“Awalnya saya pakai softlens untuk melihat lebih jelas, tetapi sekarang saya ganti menggunakan kacamata,” ujarnya.
Pengalaman serupa dialami Alya Ardelia Fitriyah, mahasiswa Ilmu Komunikasi Unhas angkatan 2025. Ia merasakan mata perih saat bepergian ke kampus pada Selasa dan Rabu.
Keluhan itu muncul ketika ia beraktivitas di luar ruangan pada siang hari dan sempat mengganggu konsentrasinya selama mengikuti perkuliahan hingga sore.
Alya menggambarkan kondisi udara saat itu terasa tidak biasa. Meski masih sekitar pukul 12.00, suasana di luar tampak gelap seperti hendak hujan. Dalam perjalanan, ia memilih mengenakan masker dan kacamata untuk mengurangi paparan.
“Sejujurnya sempat mengganggu, mata perih waktu itu. Pas siang sampai sore hari waktu kelas, sempat agak mengganggu. Tapi lama-lama hilang sendiri,” kata Alya.
Meski keluhannya mereda, Alya mengatakan akan mengurangi aktivitas di luar rumah apabila kondisi udara semakin buruk.
Ia juga berencana memeriksakan diri ke dokter jika mengalami dampak yang lebih berat. “Lebih baik kita mencegah,” ujarnya.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat kualitas udara di Makassar berada dalam kategori tidak sehat.
Konsentrasi partikulat halus atau PM2.5 mencapai 155,5 mikrogram per meter kubik. Kondisi itu diperkirakan mengalami peningkatan pada waktu tertentu.
Berdasarkan data prediksi Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Wilayah IV Makassar, kualitas udara dapat memburuk terutama pada pagi dan malam hari. Pada pukul 09.00 WITA, kategori kualitas udara diprediksi meningkat menjadi sangat tidak sehat.
Prakirawan BMKG Makassar, Nurahmi, mengatakan peningkatan konsentrasi partikulat tersebut terpantau pada 14 Oktober 2026.
Asap dan polusi udara dapat mengandung partikel halus serta gas yang mengiritasi mata dan saluran pernapasan. Dampaknya bergantung pada konsentrasi polutan, lamanya paparan, dan kondisi kesehatan seseorang.
Paparan partikel halus juga dapat memperburuk gangguan pernapasan, terutama pada orang yang memiliki penyakit paru atau jantung.
Penggunaan masker dapat membantu mengurangi paparan, tetapi tingkat perlindungannya bergantung pada jenis masker, kecocokan dengan wajah, dan cara pemakaian.
Masker kain atau masker medis tidak memberikan perlindungan setara dengan respirator partikulat yang terpasang rapat, seperti N95, terhadap partikel halus.
Adapun kacamata dapat membantu mengurangi kontak langsung mata dengan partikel dan iritan di udara, tetapi tidak menghilangkan seluruh risiko paparan.
Selain menggunakan perlindungan, mahasiswa perlu mempertimbangkan kualitas udara sebelum beraktivitas. Ketika polusi meningkat, kegiatan di luar ruangan sebaiknya dikurangi, perjalanan yang tidak mendesak ditunda, dan aktivitas dipindahkan ke dalam ruangan jika memungkinkan.
Farel berharap masyarakat memperoleh informasi yang jelas mengenai dampak polusi udara terhadap kesehatan, termasuk langkah yang perlu dilakukan ketika muncul keluhan.
Ia juga berharap pemerintah mengambil tindakan konkret dan responsif untuk menangani kondisi yang dirasakan masyarakat.
Alya mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan gejala yang muncul selama terpapar asap. Jika iritasi mata atau gangguan pernapasan memburuk, pemeriksaan medis perlu segera dilakukan.
Sesak napas berat, kesulitan berbicara akibat kehabisan napas, atau nyeri dada memerlukan pertolongan medis segera.
Keluhan yang dialami Farel dan Alya menunjukkan bagaimana kualitas udara dapat memengaruhi kegiatan sehari-hari mahasiswa.
Di tengah paparan asap, pengurangan aktivitas luar ruangan, penggunaan perlindungan yang sesuai, dan kewaspadaan terhadap gejala menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan.
(Venny Septiani Semuel / Unhas TV)
Mahasiswa Kosmik Unhas Farel Dy Stankovic dan Alya Ardelia Fitriyah terdampak kabut asap dan polusi udara dari karhutla. (Unhas TV / Venny Septiani)








