Unhas Speak Up

Makan Siang Gratis ala Jepang: Inspirasi untuk Pendidikan dan Gizi Anak Indonesia

UNHAS.TV - Program makan siang gratis di sekolah, atau yang dikenal sebagai kyushoku di Jepang, telah menjadi bagian integral dari sistem pendidikan negeri Sakura tersebut selama lebih dari 100 tahun. 

Konsep ini tidak hanya sekadar menyediakan makanan bergizi, tetapi juga membentuk karakter dan disiplin siswa sejak dini. Kini, Indonesia mulai menapaki jalan yang sama dengan program makan siang gratis di beberapa sekolah. Namun, apakah konsep ini bisa diterapkan sepenuhnya di Indonesia?  

Meta Sekar Puji Astuti, SS, MA, PhD, dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin yang pernah tinggal dan meneliti di Jepang selama delapan tahun, membagikan pengalamannya tentang bagaimana kyushoku berjalan di Jepang dan pelajaran yang bisa diambil oleh Indonesia.  

Program makan siang gratis di Jepang dimulai sejak era Meiji (1868-1912), ketika Jepang membuka diri terhadap dunia internasional dan menyadari pentingnya pendidikan untuk kemajuan bangsa.

“Jepang sudah memulai program ini sejak 1899 di sebuah sekolah swasta di Yamagata. Ini adalah upaya mereka untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan gizi anak-anak,” jelas Meta dalam program Unhas Speak-Up di Unhas TV.


Selama Perang Dunia II, program ini sempat terhenti karena keterbatasan sumber daya. Namun, pascaperang, Jepang kembali memprioritaskan kyushoku sebagai bagian dari pemulihan bangsa. Kini, program ini telah menjadi budaya yang mengakar di sekolah-sekolah Jepang, mulai dari TK hingga SMP.  

Filosofi di Balik Kyushoku

Kyushoku bukan sekadar tentang menyediakan makanan bergizi. Program ini juga mengajarkan nilai-nilai kehidupan seperti tanggung jawab, kerja sama, dan rasa syukur. “Setiap siswa memiliki peran dalam kyushoku. Ada yang bertugas membagikan makanan, membersihkan, atau mengatur meja. Ini melatih tanggung jawab dan kerja sama sejak dini,” ujarnya.  

Selain itu, sebelum makan, siswa di Jepang mengucapkan "itadakimasu", yang berarti “terima kasih atas makanan ini”. “Ini mirip dengan bismillah dalam Islam. Mereka diajarkan untuk menghargai makanan dan bersyukur,” tambahnya.  


>> Baca Selanjutnya