Sport

Malam Panik Tottenham, 3 Blunder dalam 15 Menit, Langkah Salah Igor Tudor di Liga Champions



KESALAHAN - Igor Tudor membuat kesalahan dalam susunan pemain yang diturunkan di Leg 1 Babak 16 Besar, Liga Champions, Rabu (11/3/2026). (the sun)


Namun masalah Spurs tidak berhenti di penjaga gawang. Susunan pemain Tudor sejak awal menimbulkan tanda tanya. Beberapa pemain senior seperti Joao Palhinha, Conor Gallagher, dan Dominic Solanke justru memulai laga dari bangku cadangan.

Dalam pertandingan yang menuntut kematangan, ketenangan, dan pengalaman, Tottenham malah turun dengan susunan yang terasa kurang berisi. Di stadion yang mudah menelan pemain muda dan mental rapuh, keputusan itu tampak seperti undangan terbuka bagi bencana.

Bahkan setelah Vicario masuk menggantikan Kinsky, arus kerusakan tidak sepenuhnya berhenti. Vicario memang sempat melakukan penyelamatan cemerlang saat Sarr nyaris mencetak gol bunuh diri lewat sundulan yang berbelok aneh. Namun bola muntah tetap disambar Robin Le Normand.

Skor kian menjauh. Di bangku lawan, Clement Lenglet—bekas pemain Spurs—ikut memeluk rekan setimnya dalam selebrasi. Malam itu terasa seperti parade hantu masa lalu.

Pedro Porro sempat memberi secuil harapan dengan gol balasan yang membuat skor menjadi lebih manusiawi. Tetapi bahkan momen itu tak sempat dinikmati.

Hanya 12 detik setelah peluang Richarlison dimentahkan secara gemilang, Tottenham kembali babak belur. Bola jauh dari kiper Jan Oblak, disentuh Griezmann dengan cerdas.

Sebuah umpan cerdas ke Alvarez yang berlari menyeberangi setengah lapangan sebelum menuntaskannya ke sudut gawang. Itu adalah gol yang merangkum seluruh malam Spurs: ceroboh, terbuka, dan terlalu mudah dilukai.

Ada satu fase ketika Tottenham mencoba memberi perlawanan. Sebuah kesalahan sederhana yang juga disebut blunder dari Jan Oblak dimanfaatkan Porro, lalu diteruskan kepada Solanke untuk memperkecil ketertinggalan menjadi 5-2.

Secara matematis, gol itu masih menyisakan secercah kemungkinan untuk leg kedua. Namun secara emosional, pertandingan ini sudah mengirim pesan yang lebih keras: Spurs bukan hanya kalah, mereka ambruk.

Performa Buruk Igor Tudor

Di luar skor, yang paling merisaukan adalah gambaran besar yang ditinggalkan laga ini. Sejak ditunjuk sebagai pelatih interim, Tudor telah menelan tiga kekalahan beruntun di Premier League. Jarak dengan zona degradasi disebut tinggal satu poin.

Sebelum laga ini, ia sendiri mengakui bahwa target pertama tim adalah bertahan hidup di liga, sementara pertandingan Eropa menjadi kesempatan untuk “mencoba beberapa hal”. Pernyataan itu kini terdengar seperti pengakuan yang terlalu jujur—dan terlalu mahal.

Ketika sebuah tim sedang sekarat, eksperimen bukan selalu tanda keberanian. Kadang ia hanya pertanda bahwa orang di pinggir lapangan belum benar-benar memahami kedalaman krisis yang sedang dihadapi.

Menjelang akhir laga, tabrakan kepala antara Romero dan Palhinha menambah suram penutup malam. Seolah kekacauan tak cukup hanya hadir dalam bentuk skor, ia juga menubruk tubuh para pemain yang tersisa.

Maka, pertanyaan terbesar setelah peluit panjang bukan lagi sekadar apakah Tottenham mampu membalikkan keadaan di leg kedua.

Pertanyaan yang lebih mendesak justru ini: masih adakah keyakinan bahwa Igor Tudor adalah orang yang tepat untuk berdiri di tepi lapangan?

Di tengah musim yang terbakar, Tottenham memanggil seorang pemadam. Setelah malam ini, yang tampak justru seorang lelaki yang membawa jeriken bahan bakar dan menyiramnya. (*)