
Eky Sanjaya, mahasiswa Program Studi Ilmu Ekonomi Pembangunan Unhas sekaligus Ketua Tim PKM-K FreshPax. (Unhas TV/Mustika Syaharuddin)
Dalam membangun bisnis, mahasiswa perlu memastikan produk yang dikembangkan memiliki pengguna yang jelas. Karena itu, validasi pasar menjadi salah satu tahap penting sebelum sebuah ide dikembangkan lebih jauh.
Sinta menjelaskan bahwa banyak produk tidak berkembang bukan karena tidak memiliki inovasi, melainkan karena tidak memahami kebutuhan konsumen.
“Percuma kita membuat produk atau jasa kalau tidak ada yang mau membeli atau menggunakan. Karena itu survei pasar menjadi hal yang penting untuk mengetahui siapa target market kita sebenarnya,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa mahasiswa harus turun langsung melihat kebutuhan calon pengguna. Proses tersebut membantu memastikan solusi yang ditawarkan benar-benar relevan.
Tim FreshPax juga melakukan tahapan serupa melalui riset pasar, pengembangan formulasi produk, hingga evaluasi respons konsumen.
“Kita tidak cukup dengan asumsi pribadi bahwa produk ini bagus. Kita perlu melakukan survei pasar untuk melihat bagaimana respons pasar awal sebagai validasi dalam menjalankan bisnis,” kata Eky.
Selain kemampuan mahasiswa, keberadaan ekosistem pendukung dari perguruan tinggi juga menjadi faktor penting.
Sinta menjelaskan bahwa kampus memiliki peran dalam memastikan inovasi mahasiswa tidak berhenti sebagai proyek, tetapi dapat berkembang menjadi usaha yang berkelanjutan.
Menurutnya, pendampingan bisnis perlu mencakup berbagai aspek, mulai dari pengembangan usaha, legalitas seperti Nomor Induk Berusaha (NIB), izin produksi, hingga perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI).
“Mahasiswa membutuhkan dukungan yang lebih lengkap agar usaha yang sudah digagas dapat berlanjut, konsisten, bertahan, dan mampu bersaing di luar kampus,” ujarnya.
Ia menambahkan, tantangan terbesar dalam kewirausahaan mahasiswa bukan hanya menciptakan produk, tetapi mempertahankan bisnis setelah program pendanaan atau kompetisi berakhir.
Keberlanjutan usaha sangat bergantung pada komitmen tim dalam mengembangkan inovasi tersebut.
Sementara itu, Eky mengatakan Tim FreshPax berkomitmen melanjutkan pengembangan produk melalui peningkatan kualitas, penguatan pasar, dan penyempurnaan model bisnis.
“Harapan kami, produk ini bukan hanya sekadar proyek PKM, tetapi dapat terus berkembang ke depannya,” katanya.
Melalui Econotalks, Universitas Hasanuddin menunjukkan bahwa kewirausahaan mahasiswa bukan hanya tentang menghasilkan produk baru.
Lebih jauh, kewirausahaan menjadi proses membangun generasi muda yang mampu membaca persoalan, menciptakan solusi, dan menghadirkan inovasi yang memberi dampak ekonomi.
Kisah FreshPax memperlihatkan bahwa ide bisnis dapat tumbuh dari persoalan sehari-hari di masyarakat. Dengan riset, pendampingan, dan komitmen, gagasan tersebut dapat berkembang menjadi inovasi yang memiliki nilai dan peluang keberlanjutan.
(Mustika Syaharuddin / Unhas TV)
 Prof Marsuki DEA PhD-300x162.webp)



-300x201.webp)



