Oleh: Yusran Darmawan*
Ini bukan ciutan di media sosial. Bukan pula opini liar dari kanal partisan yang riuh dan cepat hilang. Ini adalah artikel dari The Economist, majalah yang selama lebih dari satu abad menjadi rujukan kaum terdidik, pembuat kebijakan, dan elite strategis di dunia Barat.
Ketika media sekelas The Economist menulis bahwa perang Iran sedang melukai Donald Trump, maka yang sedang terjadi bukan sekadar kritik. Ini adalah peringatan. Sinyal bahwa di dalam kesadaran elite Amerika, ada sesuatu yang mulai bergeser, perlahan tetapi pasti.
Artikel berjudul “How the Iran war is hurting Donald Trump” tidak hanya melaporkan peristiwa. Ia membaca arah, membedah bagaimana sebuah perang yang semula dimaksudkan sebagai demonstrasi kekuatan kini berubah menjadi beban politik, ekonomi, dan strategis.
Nada kritik itu bahkan dirumuskan dalam satu kalimat yang tajam, dingin, dan menghina: “Although Donald Trump says he has ‘destroyed 100% of Iran’s military capability’, the 0% that apparently remains is playing havoc with the global economy by choking off 10–15% of its oil supply.”
“Meskipun Donald Trump mengatakan bahwa ia telah ‘menghancurkan 100% kemampuan militer Iran’, sisa 0% yang tampaknya masih ada justru mengacaukan ekonomi global dengan menyumbat 10–15% pasokan minyak dunia.”
Ini bukan sekadar ironi. Ini adalah pembongkaran. Dalam satu kalimat, klaim kemenangan total dipatahkan oleh fakta sederhana: yang tersisa justru cukup untuk mengguncang dunia.
Donald Trump memasuki tahun 2026 dengan keyakinan bahwa dirinya telah mengukir warisan sebagai presiden yang mengakhiri perang tanpa akhir. Namun ironi besar kini muncul.
Perang yang ia mulai sendiri, bukan sebagai respons defensif, bukan pula reaksi atas serangan langsung, melainkan pilihan politik, perlahan berubah menjadi ancaman terbesar bagi sisa masa jabatannya.
Meskipun Trump menyatakan bahwa militernya telah menghancurkan 100% militer Iran, klaim ini mustahil diverifikasi dan lebih sulit lagi dipertahankan. Publik melihat fakta yang berbeda.
Serangan Iran mampu menjangkau dan menghantam target Amerika di kawasan Teluk. Pada saat yang sama, negeri Mullah itu menunjukkan kendali strategis atas Selat Hormuz, jalur vital energi dunia yang kini terganggu dan berada dalam tekanan Iran.
Di sinilah kesalahan itu menjadi terang. Trump mungkin menghitung kekuatan militer. Tetapi ia gagal menghitung dampak.
Gangguan terhadap sekitar 10–15 persen pasokan minyak dunia bukan sekadar angka teknis. Dalam pasar energi global, itu adalah denyut nadi. Ketika denyut itu terganggu, seluruh sistem ikut bergetar. Harga energi melonjak, biaya produksi naik, dan tekanan langsung terasa dalam kehidupan sehari-hari.
Perang yang jauh berubah menjadi beban yang sangat dekat.
Dampak paling konkret terlihat pada sektor pertanian. Petani di Buxton, Maine, serta negara bagian seperti Iowa, Nebraska, dan Kansas menghadapi tekanan ganda.
Harga pupuk meningkat tajam akibat lonjakan energi, sementara harga komoditas tidak naik secara sebanding. Terjadilah cost-price squeeze, kondisi klasik yang mematikan, biaya naik, pendapatan tertahan.
Bagi petani, ini bukan sekadar persoalan ekonomi. Ini soal keberlanjutan hidup. Mereka tetap harus menanam, tetap harus berproduksi, tetapi dengan margin yang semakin tipis, bahkan terancam hilang.
Di titik ini, politik menjadi sangat nyata. Selama ini, petani merupakan basis pemilih yang relatif setia kepada Trump. Dukungan mereka bersifat pragmatis, lahir dari janji kebijakan yang berpihak pada kepentingan ekonomi mereka. Namun ketika perang yang tidak mereka kehendaki justru memperburuk kondisi mereka, loyalitas itu mulai goyah.
Bukan dalam bentuk kemarahan terbuka, tetapi dalam bentuk yang lebih sunyi: jarak.
Efek domino dari kenaikan energi menjalar luas. Bukan hanya bensin yang naik, tetapi seluruh rantai pasok ikut terdorong. Dalam konteks ekonomi Amerika yang belum sepenuhnya stabil, tekanan ini datang pada saat yang paling rentan.
Survei mulai menunjukkan bahwa publik menghubungkan langsung kenaikan harga dengan perang di Iran. Ini berbahaya bagi Trump. Berbeda dengan perang Vietnam atau Irak, konflik Iran tidak pernah memiliki fase dukungan publik yang kuat.
undefined







