Internasional
News
Polhum

Menafsir Artikel The Economist tentang Iran yang Menyakiti Donald Trump



Perang ini tidak populer sejak awal, dan semakin tidak populer karena dampaknya langsung terasa di kehidupan sehari-hari. Ini adalah kombinasi yang sulit, perang yang tidak diinginkan, dengan harga yang harus dibayar semua orang.

Namun yang paling mencengangkan justru bukan penolakan, melainkan keheningan.

Dalam analisis The Economist, tidak terlihat gelombang protes besar maupun perdebatan nasional yang intens. Fenomena ini mengundang pertanyaan. Apakah publik sedang menunggu dan melihat? Ataukah mereka justru sedang menjauh, lelah oleh dua dekade konflik yang tak kunjung selesai?

Jika yang kedua benar, implikasinya besar. Publik tidak akan menekan pemerintah untuk mengakhiri perang, tetapi juga tidak akan memberi kredit politik atasnya. Dalam politik elektoral, apatisme seperti ini bisa lebih berbahaya daripada oposisi terbuka.

Di sisi lain, perang ini menempatkan Trump dalam dilema strategis. Menarik diri akan dianggap sebagai kemunduran. Memperdalam konflik berarti menambah beban ekonomi dan politik. Inilah escalation trap, perangkap eskalasi yang membuat setiap langkah justru mempersempit pilihan.

Ke depan, beberapa skenario mungkin terjadi. Eskalasi dapat memicu dukungan patriotik jangka pendek, tetapi berisiko jika konflik berkepanjangan. De-eskalasi melalui negosiasi membuka jalan keluar, namun tidak populer, dan mengesankan kekalahan.

Skenario yang paling mungkin adalah konflik berlanjut pada intensitas sedang, cukup untuk mengganggu ekonomi, tetapi tanpa menghasilkan kemenangan yang jelas.

Ironisnya, justru skenario inilah yang paling berbahaya. Tidak ada momen kemenangan, tetapi dampak negatif terus dirasakan.

Pada akhirnya, perang Iran ini mungkin tidak akan dikenang sebagai kemenangan militer. Ia lebih mungkin tercatat sebagai sebuah titik balik, momen ketika retorika bertabrakan dengan realitas dan tidak lagi mampu menutupinya.

Ini bukan sekadar tentang siapa yang menang atau kalah di medan tempur. Ini tentang bagaimana sebuah narasi kekuasaan kehilangan daya magisnya.

Klaim tentang kekuatan, kendali, dan kemenangan bertemu dengan kenyataan yang jauh lebih sederhana namun lebih keras, harga naik, biaya hidup membengkak, dan ketidakpastian merembes ke kehidupan sehari-hari.

Seorang presiden yang ingin dikenang sebagai pembawa perdamaian kini terperangkap dalam paradoksnya sendiri. Ia memulai perang untuk menegaskan kendali, tetapi justru kehilangan kendali atas dampaknya. Ia ingin menutup bab perang tanpa akhir, tetapi justru membuka bab baru yang tak kalah rumit.

Lebih dari itu, ada ironi yang semakin terasa. Seorang pemimpin yang mengklaim memahami rasa sakit rakyat kecil kini menyaksikan mereka menanggung konsekuensi langsung dari kebijakannya.

Petani yang dulu menjadi simbol kesetiaan politik kini harus menghitung ulang biaya pupuk dan hasil panen. Kelas pekerja kini merasakan tekanan harga di setiap sudut kehidupan.

Sejarah sering kali tidak ditentukan oleh ledakan besar, melainkan oleh retakan kecil yang dibiarkan melebar. Perang Iran bisa jadi adalah retakan itu. Di titik inilah pertanyaan paling mengganggu muncul. Bagaimana jika Iran tidak kalah?


*Penulis adalah blogger, peneliti, dan digital strategist. Lulus di Unhas, UI, dan Ohio University. Kini tinggal di Bogor, Jawa Barat.