News
Opini

Point of No Return: Kertas Kerja Calon Rektor Universitas Hasanuddin Tahun 2026-2030




Tanpa kehati-hatian, sistem ini hanya akan menghasilkan manusia-manusia "robot" sistem industri yang akan kehilangan daya tangguh (resiliensi) dalam menyikapi perubahan karena kemampuannya sudah kedaluarsa.

Pandemi COVID-19 telah mempercepat adopsi infrastruktur dan teknologi pembelajaran digital di perguruan tinggi Indonesia. Meskipun Unhas relatif telah beradaptasi dengan baik, tetapi keterbatasan perangkat teknologi, pelatihan yang belum cukup memadai bagi dosen, dan resistensi terhadapperubahan budaya masih sangat mendominasi. 

Hal ini diakibatkan oleh pandangan seolah kebutuhan sistem pembelajaran digital merupakan tujuan kebutuhan jangka pendek semata yang seharusnya didekati hanya sebagai alat untuk menunjang sistem pembelajaran masa kini yang berkelanjutan.

Selama beberapa dekade kepemimpinan rektor, UNHAS telah memiliki dan memertahankan visi sebagai Pusat unggulan dalam pengembangan insani, ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya berbasis Benua Maritim Indonesia. 

Visi ini sangat stratejik dan sesuai dengan kondisi dan lingkungan geopolitik UNHAS yang ingin tampil secara unggul sebagai terdepan dalam mengelola negara maritim kepulauan terbesar di dunia. 

Unhas menyadari untuk tidak sekadar menjadi pengikut perubahan paradigma sistem pendidikan global, tetapi juga menjadi penentu dari sistem perubahan itu melalui peran sebagai pemimpin (leader) dan rujukan (reference point) dalam berbagai bidang kajian kemaritiman. 

Unhas menjawab tantangan global dengan solusi yang berbasis pada kekuatan dan konteks lokal-regionalnya, sehingga kontribusinya menjadi unik, dibutuhkan, dan memiliki nilai stratejik yang tinggi baik bagi Indonesia maupun bagi kawasan ASEAN dan dunia.

Visi yang sangat kuat ini bisa dicapai dengan menjalankan misi-misi diemban bersama yaitu:

  • Menyediakan lingkungan belajar berkualitas untuk mengembangkan kapasitas pembelajar yang inovatif dan proaktif;
  • Melestarikan, mengembangkan, menemukan, dan menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya; dan
  • Menerapkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya bagi kemaslahatan Benua Maritim Indonesia.

Misi Unhas sebagai pilar operasional saling berkaitan dan membentuk sebuah siklus yang berkelanjutan untuk mendukung peningkatan kualitas pendidikan, penelitian, dan pengembangan modal manusia di berbagai tingkat.

Melalui misi-misi tersebut, Unhas tidak hanya mencetak lulusan yang kritis dan berkualitas, tetapi juga menciptakan dan memastikan ilmu pengetahuan yang dimiliki akan memberikan manfaat nyata bagi perkembangan kualitas peradaban manusia. 

Pendekatan holistik inilah yang pada akhirnya akan mendongkrak kualitas pendidikan, penelitian, dan pengembangan modal manusia Unhas, sehingga mampu berkompetisi dan menjadi pemimpin di tingkat nasional, regional, dan global, dengan keunikannya pada bidang maritim kepulauan.

Kontekstualisasi Pengembangan Universitas Hasanuddin Secara Global

Secara global, lanskap Universitas Hasanuddin ditandai oleh beberapa kecenderungan utama yang harus dihadapi guna meningkatkan kualitas dan reputasi:

I. Kemajuan Teknologi dan Digitalisasi

Teknologi informasi telah mengubah sistem proses belajar-mengajar di berbagai tingkat pendidikan. Menyadari hal ini, Unhas hendaknya segera mengintegrasikan kecerdasan buatan, maha data, realitas virtual, dan infrastruktur teknologi informasi pembelajaran daring ke dalam bentuk, metode dan strategi pembelajaran termasuk fungsi administratifnya. 

Hal ini menciptakan tantangan dalam hal investasi infrastruktur dan pengembangan dosen. Munculnya Massive Open Online Courses (MOOCs) dan infrastruktur pembelajaran daring lainnya telah meningkatkan persaingan dari penyedia pendidikan non-tradisional, harus mendorong Unhas untuk meninjau ulangmodel pendidikan tradisional mereka. 

Dalam pengelolaan teknologi informasi, Unhas hendaknya tidak sekedar aktif dalam mendigitalisasi data administrasi, tetapi menjadikan teknologi informasi sebagai pilar stratejik untuk mendukung sistem pembelajaran, riset, tata kelola, dan kontribusi sosial.

II. Keberlanjutan dan Dampak Sosial

Kesadaran dan keberpihakan pada hak asasi manusia telah mewajibkan kurikulum pendidikan berkontribusi pada pencapaian tujuan global berkelanjutan (Suistainable Development Goals-SDGs) di tahun 2030.

Pergeseran ini harus mensegerakan UNHAS memutakhirkan kurikulum dan tridharmanya agar selaras dengan tujuan pemerataan peningkatan kehidupan dan kesejahteraan masyarakat yang diwajibkan oleh PBB.

Dampak sosial visi UNHAS harus membumi dan berperan mengaktifkan komunitas akademiknya sebagai agen perubahan masyarakat maritim kepulauan. Melalui pengabdian masyarakat berbasis riset, pengembangan kebijakan publik, serta pemberdayaan ekonomi lokal, Unhas mampu menghadirkan solusi nyata bagi tantangan kemiskinan, ketimpangan pendidikan, kesehatan, dan keberlanjutan lingkungan spesifik di Indonesia terutama di Kawasan Timur Indonesia. 

Unhas harus menjadi pusat inovasi sosial yang menghasilkan lulusan dengan jiwa kepemimpinan dan bertanggung jawab secara sosial, sekaligus membangun jejaring dengan pemerintah, industri, dan komunitas internasional. 

Dengan cara ini dampak sosial yang dihasilkan oleh keberadaan UNHAS terhadap pembangunan lokal, nasional, regional dan global akan berkelanjutan.

III. Keberlanjutan Pengelolaan Keuangan

Kedudukan Unhas sebagai Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH) memungkinkan Unhas merdeka mengelola berbagai kebijakan termasuk sistem keuangan, hingga pembukaan dan penutupan fakultas/program studi secara mandiri. 

Tetapi kemerdekaan yang tidak disertai dengan kendali bisa berdampak pada bahaya karena organisasi institusi secara  kuantitas akan bertumbuh tetapi secara kualitas mungkin saja menjadi kerdil dan tidak berkembang.

Slogan bahwa saat ini Unhas bukan hanya bergerak di bidang akademik tetapi juga di bidang bisnis hanya menunjukkan bahwa kita belum sepenuhnya memahami makna tentang apa yang disebut perguruan tinggi. 

Aktivitas inti dari suatu perguruan tinggi termasuk Unhas  hanya satu yaitu akademik. Di samping aktivitas akademik, tentu saja Unhas bisa melakukan berbagai aktivitas seperti bisnis, tetapi semua aktivitas bisnis itu hendaknya dimaknai hanya untuk tujuan meningkatkan kualitas akademik dan tidak untuk hal-hal di luar akademik. 




>> Baca Selanjutnya