Internasional

Prof. Ambo Tuwo: Bahasa Prancis Bisa Menjadi Jalan Baru Generasi Indonesia Menuju Masa Depan Global

Prof.Dr.Ir.Ambo Tuwo di Konferensi Internasional Bahasa Perancis yang bertajuk Prof.Dr.Ir.Ambo Tuwo di Konferensi Internasional Bahasa Perancis yang bertajuk "Conference Internationale sur le Francais", di Hotel Aston, Makassar, Sabtu (02/11/2019). (Foto:Humas Unhas).

MAKASSAR,UNHAS.TV — Di tengah perdebatan tentang masa depan pendidikan Indonesia, gagasan Presiden Prabowo Subianto agar Bahasa Prancis diajarkan lebih luas pada semua jenjang pendidikan mendapat tanggapan serius dari kalangan akademisi Universitas Hasanuddin.

Bagi Prof. Dr. Ir. Ambo Tuwo,DEA, Konsul Kehormatan Prancis di Makassar, Presiden Alliance Française Makassar, sekaligus akademisi Universitas Hasanuddin, gagasan tersebut bukan sekadar soal menambah mata pelajaran baru di sekolah.

Dalam wawancara dengan Unhas TV melalui WhatsApp pada 3 Juni 2026, Prof. Ambo Tuwo menilai penguatan Bahasa Prancis sebagai investasi strategis untuk membuka masa depan generasi muda Indonesia.

Menurutnya, dunia kini tidak lagi bergerak dalam satu pusat kekuatan.

Perubahan geopolitik, ekonomi, ilmu pengetahuan, dan teknologi telah melahirkan dunia yang semakin multipolar, sehingga Indonesia membutuhkan sumber daya manusia yang mampu berinteraksi dengan berbagai pusat peradaban global.

Dalam konteks itu, Bahasa Prancis menjadi sangat relevan.

Prancis bukan hanya salah satu negara besar di Eropa, tetapi juga pusat inovasi dalam teknologi tinggi, kedirgantaraan, energi, kelautan, kecerdasan buatan, transportasi, pertahanan, kesehatan, dan penelitian ilmiah.

Karena itu, penguatan Bahasa Prancis tidak sekadar menambah jumlah penutur, tetapi membuka akses generasi muda Indonesia terhadap beasiswa, pendidikan tinggi, jaringan riset internasional, peluang kerja, kerja sama industri, dan diplomasi global.

Prof. Ambo menegaskan bahwa penguatan Bahasa Prancis bukan untuk menggantikan Bahasa Inggris.

Sebaliknya, kemampuan menguasai Bahasa Prancis sebagai bahasa kedua atau ketiga akan menjadi nilai tambah yang memperkuat daya saing bangsa.

Bahasa sebagai Diplomasi yang Menyatukan Bangsa


Prof Dr Ir Ambo Tuwo DEA, menerima surat pengakuan (exequatur) sebagai Konsul Kehormatan Perancis, Jumat (11/1/2019). (Foto: Humas Unhas).
Prof Dr Ir Ambo Tuwo DEA, menerima surat pengakuan (exequatur) sebagai Konsul Kehormatan Perancis, Jumat (11/1/2019). (Foto: Humas Unhas).


Prof. Ambo Tuwo melihat gagasan Presiden Prabowo juga memiliki dimensi diplomatik yang penting.

Selama lebih dari tujuh dekade, hubungan Indonesia dan Prancis berkembang positif dengan landasan saling menghormati kedaulatan masing-masing negara.

Menurutnya, hubungan antarnegara yang kuat tidak hanya dibangun melalui politik dan ekonomi, tetapi juga melalui kedekatan manusia lewat pendidikan, bahasa, dan budaya.

Karena itu, dorongan memperluas pembelajaran Bahasa Prancis merupakan sinyal bahwa Indonesia ingin memperkuat kemitraan strategis dengan Prancis dalam ilmu pengetahuan, teknologi, pertahanan, ekonomi, riset, dan pengembangan sumber daya manusia.

Bahasa, menurutnya, adalah instrumen diplomasi yang mampu membangun kepercayaan dan memperdalam hubungan antarmasyarakat kedua negara.

Prof. Mardi: Ada Diplomasi Basa-Basi, Ada Diplomasi Strategis


Prof. Mardi Adi Armin mendampingi Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Fabien Penone, menyaksikan pertunjukan seni tari tradisional Sulawesi Selatan di Makassar pada akhir Mei 2026. Kunjungan budaya tersebut menjadi bagian dari upaya mempererat hubungan Indonesia–Prancis melalui diplomasi kebudayaan serta memperkenalkan kekayaan seni dan tradisi Sulawesi Selatan kepada dunia internasional. (Foto: Dok. Istimewa)
Prof. Mardi Adi Armin mendampingi Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Fabien Penone, menyaksikan pertunjukan seni tari tradisional Sulawesi Selatan di Makassar pada akhir Mei 2026. Kunjungan budaya tersebut menjadi bagian dari upaya mempererat hubungan Indonesia–Prancis melalui diplomasi kebudayaan serta memperkenalkan kekayaan seni dan tradisi Sulawesi Selatan kepada dunia internasional. (Foto: Dok. Istimewa)


Pandangan yang lebih tajam dari sisi geopolitik disampaikan Guru Besar Departemen Sastra Prancis Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. Mardi Adi Armin.

Dalam wawancara dengan Unhas TV melalui WhatsApp pada 3 Juni 2026, Prof. Mardi menilai pernyataan Presiden Prabowo perlu dibaca dari dua sisi.

Sisi pertama adalah dimensi diplomasi simbolik atau diplomasi basa-basi politik yang lazim muncul dalam hubungan antarnegara.

Dalam dunia diplomasi, pujian terhadap bahasa, budaya, dan pendidikan negara mitra sering menjadi bagian dari etika komunikasi politik.

Namun menurut Prof. Mardi, akan terlalu sederhana jika pernyataan Presiden Prabowo hanya dipahami sebagai basa-basi diplomatik.

Sisi kedua justru jauh lebih penting, yakni dimensi diplomasi strategis yang memiliki target jangka panjang.

Dimensi inilah yang menurut Prof. Mardi perlu dibahas secara serius dan cermat.

Ia menilai pernyataan Presiden Prabowo lahir dari pembacaan terhadap perubahan geopolitik global, termasuk dinamika di Asia Barat, Eropa, dan kawasan Indo-Pasifik.

Konflik yang terus berlangsung di Timur Tengah, perubahan lanskap keamanan Eropa, serta meningkatnya rivalitas kekuatan besar membuat banyak negara mulai mencari mitra yang lebih independen dan tidak sepenuhnya terikat pada satu blok kekuatan.

Dalam konteks itu, Prancis memiliki posisi yang unik.

Prancis adalah negara besar Eropa, anggota tetap Dewan Keamanan PBB, memiliki kekuatan militer dan industri pertahanan maju, serta memiliki tradisi diplomasi yang panjang.

Menurut Prof. Mardi, Prancis kerap tampil dengan posisi yang lebih otonom dibandingkan sejumlah negara Barat lain.

Sejak era Charles de Gaulle hingga Presiden Emmanuel Macron, Prancis sering berusaha mempertahankan ruang kemandirian dalam politik luar negeri.

Prof. Mardi melihat posisi ini membuat Prancis dapat dipahami sebagai salah satu kekuatan Barat yang relatif lebih mampu mengambil jarak dari dominasi politik tertentu.

Dalam beberapa isu internasional, sikap Prancis sering dipandang lebih terbuka untuk memainkan peran penengah.

Karena itu, menurutnya, pilihan memperkuat Bahasa Prancis tidak hanya dapat dibaca sebagai kebijakan pendidikan, tetapi juga sebagai bagian dari strategi memperluas ruang diplomasi Indonesia.

Bahasa Prancis sebagai Alternatif Bahasa Global


Prof. Dr. Mardi Adi Armin, Guru Besar Departemen Sastra Prancis Universitas Hasanuddin, menilai penguatan Bahasa Prancis di Indonesia bukan sekadar kebijakan pendidikan, melainkan bagian dari strategi memperluas akses generasi muda terhadap ilmu pengetahuan, diplomasi, dan dinamika geopolitik global yang semakin multipolar. Menurutnya, penguasaan lebih dari satu bahasa internasional akan memperkuat kemampuan bangsa Indonesia berinteraksi dengan berbagai pusat peradaban dunia dan meningkatkan daya saing pada era global. (Foto: Humas Unhas).
Prof. Dr. Mardi Adi Armin, Guru Besar Departemen Sastra Prancis Universitas Hasanuddin, menilai penguatan Bahasa Prancis di Indonesia bukan sekadar kebijakan pendidikan, melainkan bagian dari strategi memperluas akses generasi muda terhadap ilmu pengetahuan, diplomasi, dan dinamika geopolitik global yang semakin multipolar. (Foto: Humas Unhas).


Prof. Mardi juga menyoroti dominasi Bahasa Inggris dalam percaturan global.

Menurutnya, Bahasa Inggris memang telah menjadi bahasa internasional utama, tetapi dominasi itu tidak dapat dipisahkan dari sejarah panjang pengaruh politik, ekonomi, budaya, dan militer dunia Anglo-Saxon, terutama Inggris dan Amerika Serikat.

Karena itu, penguatan Bahasa Prancis tidak harus dipahami sebagai penolakan terhadap Bahasa Inggris.

Sebaliknya, langkah itu dapat dilihat sebagai upaya memperluas alternatif kebahasaan global bagi bangsa Indonesia.

Dengan kata lain, Indonesia tidak boleh hanya bergantung pada satu pintu untuk memasuki dunia.

Semakin banyak bahasa yang dikuasai generasi muda Indonesia, semakin luas pula akses mereka terhadap ilmu pengetahuan, diplomasi, kebudayaan, ekonomi, dan jaringan internasional.

Prof. Mardi menyebut bahwa pada abad ke-18 dan ke-19, Bahasa Prancis pernah menjadi bahasa aristokrasi, diplomasi, ilmu pengetahuan, dan pergaulan intelektual dunia.

Jejak pengaruh itu masih terasa hingga sekarang melalui posisi Bahasa Prancis sebagai salah satu bahasa resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa dan berbagai organisasi internasional.

Karena itu, menurutnya, penguatan Bahasa Prancis dapat menjadi bagian dari proses menyeimbangkan dominasi Bahasa Inggris dalam pendidikan dan diplomasi global.

Bukan untuk mengganti Bahasa Inggris, tetapi untuk memperkaya kemampuan bangsa Indonesia agar lebih bebas bergerak dalam berbagai ruang pergaulan dunia.

Harapan Baru bagi Generasi Muda Indonesia

Dalam pandangan Prof. Ambo Tuwo, manfaat terbesar dari penguatan Bahasa Prancis akan dirasakan langsung oleh generasi muda Indonesia.

Prancis merupakan salah satu pusat ilmu pengetahuan dan teknologi dunia yang unggul dalam kecerdasan buatan, energi, kesehatan, kedirgantaraan, kelautan, dan sektor strategis lainnya.

Kemampuan berbahasa Prancis akan memberikan keunggulan kompetitif bagi generasi muda untuk mengakses pendidikan tinggi, beasiswa, riset, dan kerja sama internasional.

Ia juga mengingatkan bahwa banyak negara Eropa menghadapi tantangan demografi berupa menurunnya angka kelahiran dan meningkatnya populasi lanjut usia.

Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi membuka peluang bagi tenaga kerja terdidik dari negara mitra, termasuk Indonesia.

Karena itu, penguatan Bahasa Prancis bukan hanya soal pendidikan hari ini, tetapi juga tentang kesiapan generasi Indonesia memasuki pasar kerja global pada masa depan.

Mengapa Bahasa Inggris Saja Tidak Lagi Cukup?

Prof. Ambo memahami bahwa sebagian masyarakat mungkin bertanya mengapa Indonesia perlu memperkuat Bahasa Prancis jika Bahasa Inggris telah menjadi bahasa internasional utama.

Jawabannya sederhana: bahasa adalah instrumen strategis untuk mengakses ilmu pengetahuan, teknologi, diplomasi, dan peluang ekonomi global.

Bahasa Prancis digunakan sebagai bahasa resmi atau salah satu bahasa resmi di banyak negara yang tersebar di Eropa, Afrika, Amerika Utara, Karibia, Pasifik, dan Timur Tengah.

Selain Prancis, bahasa ini digunakan di Belgia, Swiss, Luksemburg, Kanada, Senegal, Pantai Gading, Republik Demokratik Kongo, Kamerun, dan banyak negara lain.

Sebagai salah satu bahasa resmi PBB, Bahasa Prancis menghubungkan Indonesia dengan jaringan global yang sangat luas.

Bagi Prof. Mardi, penguasaan Bahasa Prancis juga memberi keleluasaan bagi bangsa Indonesia untuk bergaul dengan lebih banyak pusat kekuatan dunia.

Sikap bangsa yang tepat, menurutnya, bukan memilih satu bahasa dan menolak bahasa lain, melainkan membangun generasi yang mampu bergerak bebas di banyak ruang peradaban.

Membuka Pintu Beasiswa, Riset, dan Kampus Dunia

Sebagai Konsul Kehormatan Prancis, Prof. Ambo Tuwo melihat bahwa meningkatnya penguasaan Bahasa Prancis di Indonesia akan memperbesar peluang mahasiswa dan peneliti Indonesia untuk mengakses program internasional.

Selama ini pemerintah Prancis telah membuka banyak program beasiswa, mobilitas akademik, dan kerja sama antaruniversitas.

Indonesia juga telah memiliki berbagai skema pendanaan bersama, termasuk melalui LPDP dan program kerja sama penelitian yang berlangsung selama puluhan tahun.

Semakin banyak generasi muda yang menguasai Bahasa Prancis, semakin besar pula peluang mereka memanfaatkan berbagai fasilitas tersebut.

Menurutnya, penguatan Bahasa Prancis dapat menjadi katalis yang mempercepat peningkatan jumlah mahasiswa, akademisi, dan peneliti Indonesia dalam kerja sama internasional.

Unhas dan Indonesia Timur Menatap Peluang Baru

Prof. Ambo secara khusus menyoroti posisi strategis Universitas Hasanuddin.

Menurutnya, Unhas tidak hanya berpotensi, tetapi telah lama menjadi salah satu pusat pengembangan Bahasa dan Kebudayaan Prancis di Indonesia Timur.

Keberadaan Program Studi Sastra Prancis, berbagai kegiatan akademik dan budaya, serta Warung Prancis Universitas Hasanuddin menjadi fondasi penting yang telah dibangun selama bertahun-tahun.

Sebagai dosen Unhas sekaligus Konsul Kehormatan Prancis di Makassar, ia melihat adanya visi bersama untuk menjadikan Unhas sebagai simpul utama kerja sama pendidikan, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan Indonesia–Prancis di kawasan timur Indonesia.

Dari Kecerdasan Buatan hingga Ekonomi Biru


Prof. Dr. Ir. Ambo Tuwo, DEA, akademisi dan pakar kelautan Universitas Hasanuddin, menegaskan bahwa penguasaan ilmu pengetahuan, riset, dan jejaring internasional merupakan kunci penting dalam mempersiapkan generasi Indonesia menghadapi tantangan global dan membangun masa depan maritim yang berkelanjutan. (Foto: Dok. Pribadi).
Prof. Dr. Ir. Ambo Tuwo, DEA, akademisi dan pakar kelautan Universitas Hasanuddin, menegaskan bahwa penguasaan ilmu pengetahuan, riset, dan jejaring internasional merupakan kunci penting dalam mempersiapkan generasi Indonesia menghadapi tantangan global dan membangun masa depan maritim yang berkelanjutan. (Foto: Dok. Pribadi).


Menurut Prof. Ambo, bidang-bidang yang paling membutuhkan penguasaan Bahasa Prancis pada masa depan mencakup pendidikan, pangan, kesehatan, teknologi informasi, kecerdasan buatan, energi, lingkungan, kelautan, dan hubungan internasional.

Ia mengakui bahwa banyak universitas di Prancis kini membuka program internasional berbahasa Inggris.

Namun berdasarkan pengalamannya menempuh pendidikan di Prancis, Bahasa Inggris saja tidak cukup untuk memahami secara mendalam budaya akademik, jejaring penelitian, dunia industri, dan ekosistem inovasi di negara tersebut.

Dalam bidang kelautan, yang merupakan kepakarannya, Prof. Ambo melihat manfaat yang lebih besar.

Prancis merupakan salah satu negara maritim penting di dunia dengan wilayah yang tersebar di berbagai samudra dan hadir di banyak zona waktu.

Negara itu memiliki keunggulan dalam ilmu kelautan, oseanografi, teknologi maritim, konservasi laut, energi laut, dan ekonomi biru.

Bagi Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, pengalaman dan teknologi Prancis sangat relevan untuk mendukung pembangunan ekonomi berbasis laut yang berkelanjutan.

Bahasa yang Membuka Jalan bagi Sulawesi Selatan

Bagi Sulawesi Selatan dan Indonesia Timur, penguasaan Bahasa Prancis dapat membuka peluang pada sektor pariwisata, pendidikan, pertanian, kelautan, pertambangan, investasi, dan ekonomi kreatif.

Wisatawan Prancis merupakan salah satu kelompok wisatawan Eropa yang cukup aktif berkunjung ke kawasan ini.

Kemampuan berbahasa Prancis dapat menjadi nilai tambah bagi pemandu wisata, pelaku industri perhotelan, pengelola destinasi, dan wirausahawan.

Selain itu, Bahasa Prancis juga membuka akses terhadap pendidikan tinggi, beasiswa, transfer teknologi, penelitian, dan investasi dari negara-negara Frankofon.

Sebuah Investasi untuk Masa Depan Bangsa

Menjelang akhir wawancara, Prof. Ambo Tuwo menyampaikan pesan sederhana namun kuat kepada mahasiswa dan pelajar Indonesia.

Ia mengajak mereka untuk tidak melihat Bahasa Prancis sebagai beban tambahan.

Bahasa itu harus dipandang sebagai investasi masa depan.

Masa depan akan semakin kompetitif, dinamis, dan sulit diprediksi.

Mereka yang memiliki keunggulan dan keunikan akan memiliki peluang lebih besar untuk berhasil.

Prof. Mardi juga menegaskan hal serupa.

Menurutnya, bangsa Indonesia membutuhkan kemampuan bahasa yang membuat generasi mudanya leluasa bergaul, berdialog, bekerja sama, dan berkontribusi di berbagai belahan dunia.

Penguatan Bahasa Prancis, dalam pandangannya, adalah bagian dari cara Indonesia memperluas cakrawala globalnya.

Pada akhirnya, gagasan Presiden Prabowo tentang Bahasa Prancis dapat dibaca sebagai panggilan untuk menyiapkan generasi baru Indonesia.

Generasi yang tidak hanya fasih berbicara, tetapi juga cerdas membaca perubahan dunia.

Generasi yang tidak hanya menjadi penonton globalisasi, tetapi ikut menentukan arahnya.

Dan mungkin, dari ruang-ruang kelas sederhana di Indonesia hari ini, akan lahir anak-anak muda yang kelak menjadi ilmuwan, diplomat, peneliti, pemimpin industri, atau pembawa gagasan besar yang mengharumkan nama bangsa di panggung dunia.(*)