.webp)
Dari tanah itu, ia ingin membuktikan bahwa ilmu pengetahuan sejati adalah yang kembali kepada manusia.
Ia membangun ekosistem kolaborasi antara akademisi, industri, dan masyarakat. Menyebutnya triple helix: tiga simpul yang saling menguatkan, dengan universitas sebagai pusat inovasi.
Akademisi membawa riset dan teknologi, industri menyediakan jalur produksi dan distribusi, sementara masyarakat menjadi pengguna sekaligus penguji manfaat. “Kalau tiga simpul ini berjalan bersama, maka inovasi tidak hanya berhenti di ruang seminar,” ujarnya.
Triple helix juga membuka ruang dialog. Petani memberi masukan tentang varietas jagung yang cocok di lahannya, pelaku UMKM menawar rasa cokelat sesuai selera pasar, mahasiswa belajar langsung bagaimana riset diuji, diproduksi, lalu dijual.
BACA: Jamaluddin Jompa, Kemudi Unhas, dan Kepemimpinan Maritim
Dengan begitu, Unhas tak lagi hanya rumah ilmu, melainkan laboratorium sosial-ekonomi di mana berbagai pihak bertemu dan berkolaborasi.
Namun, jalan itu panjang. Beberapa produk masih menunggu izin edar, infrastruktur produksi masih terbatas, kerja sama industri harus diperluas. Tapi setiap langkah, meski kecil, adalah penegasan: Unhas memilih keluar dari sekadar publikasi.
“Hilirisasi adalah investasi jangka panjang,” kata Prof. JJ. “Kita harus sabar, konsisten, dan memastikan manfaat riset kembali ke masyarakat.”
Menakhodai Kapal Hilirisasi
Dengan jagung yang tumbuh di ladang, kopi yang diseduh di kios kecil, hingga kapsul kesehatan yang diminum pasien, hilirisasi Unhas memperlihatkan wajah ilmu pengetahuan yang hidup. Dari Sulawesi untuk Indonesia, bahkan dunia.
Prof. JJ, yang lahir dari laut dan menapaki panggung ilmuwan global, kini menakhodai kapal besar bernama Universitas Hasanuddin. Ia tahu, samudra riset tidak boleh berhenti di dermaga teori. Kapal itu harus berlayar, membawa hasil inovasi ke sawah-sawah petani, ke rumah-rumah keluarga, hingga ke pasar global.
Seperti pelaut yang membaca arah angin, ia membaca tanda zaman: kampus tak lagi cukup hanya mencetak sarjana, tetapi harus menyalakan obor inovasi. Hilirisasi menjadi layar yang dikembangkan.
Sementara Sulawesi, tempat Unhas berpijak, menjadi pelabuhan yang memberinya tenaga. Dan di setiap gelombang yang datang, ia mengemudi dengan keyakinan sederhana: ilmu pengetahuan hanya bermakna ketika kembali kepada manusia.