UNHAS.TV – Hujan baru saja reda ketika Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc., Rektor Universitas Hasanuddin, turun ke ladang di Minahasa. Dengan tangan yang biasanya akrab memegang buku dan riset ekologi laut, ia kini memegang batang jagung.
Varietas unggulan JJ UH 02, hasil penelitian Unhas, tumbuh kokoh di dataran tinggi, menantang cuaca ekstrem. Panen itu bukan sekadar seremoni, melainkan pesan: ilmu pengetahuan bisa turun ke tanah, menyeberangi batas laboratorium, hadir langsung di kehidupan petani.
Sejak awal kepemimpinannya, pria yang akrab disapa Prof. JJ menolak riset yang hanya berhenti sebagai publikasi di menara gading. Ia mendirikan Badan Usaha Milik Universitas (BUMU), menjadikan kampus bukan hanya tempat mencetak sarjana, melainkan juga produsen inovasi.
BACA: Jejak Jamaluddin Jompa di Panggung Ilmuwan Dunia
Di tangan BUMU, hasil penelitian tidak lagi mengendap dalam jurnal, tetapi diproduksi, dipasarkan, dan dikembalikan ke masyarakat.
Dari sana lahir Jagung Jago UH, benih yang kini bermitra dengan sepuluh perusahaan nasional. Tak lagi sekadar wacana akademik, benih itu tumbuh di sawah-sawah Sulawesi hingga Kalimantan, memberi panen yang lebih stabil di tengah iklim yang tak menentu.
Di peternakan, tercipta Allope, pakan ternak lokal berbasis bahan sekitar, lebih murah dan ramah lingkungan. Seorang peternak ayam kampung di Gowa bersaksi, biaya pakannya turun 20 persen sejak beralih ke Allope.
“Sekarang lebih mudah, tinggal pesan lewat ponsel, langsung diantar,” katanya. Ilmu pengetahuan yang dulu hanya ia dengar di berita kini hadir di kandangnya.
Sektor pangan pun mendapat sentuhan hilirisasi. Dari kebun rakyat di Enrekang, Toraja, dan Bantaeng, lahir Hadin Coffee, kopi yang diproses dengan standar ekspor.
Dari perkebunan kakao di Luwu dan Kolaka, lahir Hadin Cokelat, brand lokal bercita rasa global yang tengah menunggu izin edar. Ada juga Bakso Sixone 77, hasil kolaborasi akademisi dan industri, yang kini diproduksi hingga 15 ton per bulan, membuktikan bahwa riset bisa hadir di meja makan sehari-hari, dalam bentuk sederhana: bakso.
Di bidang kesehatan, Unhas menelurkan Biobetes dan Biodetox, suplemen berbasis riset farmasi yang kini sudah mengantongi izin BPOM. Produk ini siap diproduksi ribuan botol per bulansiap masuk ke gaya hidup sehat masyarakat luas.
Dari meja laboratorium fakultas kedokteran, hasilnya kini bisa masuk ke rak apotek dan dapur keluarga.
Tak hanya pangan dan obat, teknologi pun lahir dari tangan mahasiswa dan dosen. Drone Pertanian dikembangkan untuk membantu petani memupuk dan menabur benih dengan lebih efisien.
BACA: Jamaluddin Jompa, Bukan Sekadar Rektor
Lahan luas yang dulu membutuhkan hari-hari panjang kini bisa ditangani dalam waktu singkat. Drone ini menjadi saksi bahwa teknologi tinggi pun bisa berpihak kepada desa.
Untuk menopang semua itu, Unhas mendirikan Bank Unhas. Ia bukan sekadar lembaga keuangan, tapi juga laboratorium pembelajaran. Mahasiswa ekonomi bisa belajar langsung tentang dunia perbankan, bukan hanya lewat teori, melainkan melalui praktik di ruang nyata.
Rektor sebagai Nakhoda
Prof. JJ, seorang ahli ekologi laut dengan reputasi dunia, sering berkata: riset tanpa hilirisasi hanyalah setengah jalan. Meski namanya tercatat di banyak jurnal internasional, kakinya tetap berpijak di bumi Sulawesi Selatan, tempat Unhas berdiri.