News

RIP: Sudirman Nasir

Sudirman Nasir. Foto: Arianto A Patunru



Mengenang seorang sahabat dan membaca karyanya

oleh: Arianto A Patunru PhD

SEORANG sahabat berpulang tadi malam. Sudirman Nasir—kami memanggilnya Sudi’—adalah kawan saya sejak SMA di Makassar lebih dari 30 tahun lalu. Saya di jurusan fisika, ia di biologi. Saya lanjut kuliah ekonomi, ia kedokteran dan kesehatan masyarakat. Belakangan kami mengimbuhi pertemanan ini dengan aktivitas akademik. Saya undang Sudi dalam webinar tentang Covid-19, dan Sudi mengundang saya memberi kuliah di Universitas Hasanuddin. Sudi bahkan menjadi peneliti tamu di Australian National University tahun lalu. Saya ingin mengenang Sudi lewat karya akademik utamanya, studinya tentang konsumsi narkoba di Indonesia. Sudi mempublikasikan beberapa artikel di jurnal internasional tentang isu ini, berbasis tesis master dan doktoralnya di University of Melbourne.

Sudi memperkenalkan istilah ‘lorong’ ke jurnal internasional. Penelitiannya tentang narkoba berangkat dari lorong-lorong atau gang di Makassar. Ia mewawancarai para pengguna narkoba suntik dan mencoba memahami mengapa perilaku berisiko tinggi itu begitu mudah tumbuh di lingkungan kumuh muram seperti lorong-lorong di Makassar. Sudi dan co-author-nya yang juga pembimbingnya, Doreen Rosenthal, menyimpulkan bahwa penggunaan narkoba bukan semata keputusan individual yang buruk. Lingkungan berpengaruh. Dalam hal ini, lorong adalah risk environment: lingkungan tempat kemiskinan, pengangguran, marjinalisasi sosial, perilaku geng, serta norma maskulinitas saling berinteraksi.

Untuk yang terakhir ini (norma maskulinitas), Sudi membawa istilah lain ke dunia akademik internasional: ‘rewa’. Dalam budaya Makassar, rewa sering diartikan sebagai nyali atau bernyali. Kadang istilah itu dipakai untuk membakar semangat: rewako (atau disingkat ewako) artinya kira-kira, ‘ayo jangan takut’, atau bahkan ‘hadapi saya’ (penggemar sepakbola mungkin ingat yel-yel PSM, Persatuan Sepakbola Makassar). Konsep lokal rewa dałam studi Sudi merujuk pada keberanian atau ketangguhan sebagai penanda kelelakian. Bagi sebagian pemuda di lorong-lorong tadi, status rewa adalah kompensasi untuk menutup ketidakmampuan mendapatkan pekerjaan yang baik, pendidikan yang layak, atau status sosial lainnya. Maka rewa berarti saluran alternatif: berkelahi, minum, atau mengkonsumsi narkoba. Sudi menunjukkan bahwa pilihan-pilihan itu tidak terjadi di ruang hampa. Lingkungan sosial, budaya, dan ekonomi ikut membentuk bagaimana seseorang memandang risiko dan apa yang mereka anggap bernilai.

Bagi ekonom, ini menarik. Kita terbiasa berbicara tentang insentif, kendala, modal manusia, opportunity costs, mobilitas sosial, dan lain-lain. Semua konsep ini juga ada dalam studi-studi Sudi. Membaca penelitian Sudirman Nasir mengingatkan saya bahwa variabel-variabel ekonomi punya makna sosial yang jauh lebih kaya ketimbang angka yang kita masukkan dalam regresi.

Pengangguran, misalnya, bukan hanya kehilangan pendapatan. Ia juga berarti waktu yang tidak terstruktur, kebosanan, atau hilangnya ‘jalur resmi’ untuk mendapatkan penghargaan, atau setidaknya pengakuan sosial. Sebaliknya, pekerjaan bukan hanya soal upah. Dalam paper yang lain, Sudi menunjukkan bahwa pekerjaan, sekalipun memberi upah yang rendah, ia juga berarti rutinitas, identitas, reputasi, serta jaringan sosial. Semuanya penting untuk memberi perasaan bahwa si empunya juga punya tempat dalam masyarakat. Sudi membawa konteks ini kembali ke lorong. Jika lorong bisa begitu kuat sebagai risk environment, kenapa ada sebagian pemuda di situ yang bertahan tidak memakai narkoba? Sudi dan co-authors-nya menemukan bahwa mereka yang bertahan (para abstainer) umumnya masih punya pekerjaan atau masih bersekolah. Jadi, mereka punya sesuatu yang mungkin terdengar sederhana, tapi ternyata berperan penting: aktivitas yang bermakna, waktu yang terstruktur, penghasilan yang legal, identitas yang diakui umum, serta jaringan sosial di luar lorong. Semua ini memungkinkan para abstainer untuk bergerak secara sosial ke atas.




>> Baca Selanjutnya