Oleh: Muhdar Tasrief
UNHAS.TV - Pemotongan baja pertama (first steel cutting) kapal selam Scorpène Evolved di galangan PAL Indonesia, Surabaya, pada 7 Agustus 2026, bukan sekadar seremoni. Momentum ini menjadi ujian awal apakah transfer teknologi pertahanan mampu menghasilkan kapasitas industri yang dapat diulang, diperluas, dan memberi nilai tambah bagi perekonomian nasional.
Tahap tersebut semula dijadwalkan berlangsung pada September 2026, tetapi dipercepat setelah PAL Indonesia dan Naval Group menyatakan kesiapan untuk memulai produksi lebih awal pada 2 Juli 2026.

Muhdar Tasrief, Ketua Umum IKA Teknik Sistem Perkapalan Unhas. (Dok Unhas TV)
Namun, makna terpentingnya tidak terletak pada percepatan jadwal, melainkan pada pertanyaan yang lebih mendasar: seberapa jauh kemampuan manufaktur dan rekayasa Indonesia benar-benar meningkat melalui proyek ini?
Kapal Selam sebagai Platform Pembelajaran
Nilai strategis program Scorpène Evolved tidak hanya terletak pada dua unit kapal selam yang akan diterima TNI Angkatan Laut. Nilai yang lebih penting berada pada kemampuan yang tertinggal di dalam ekosistem industri: disiplin manufaktur, kendali mutu, penguasaan proses produksi, serta kapasitas rekayasa untuk mengerjakan produk berteknologi tinggi.
Sebelum memasuki tahap first steel cutting, PAL Indonesia dan Naval Group telah melaksanakan qualification section pada Desember 2025 sebagai bagian dari persiapan dan pelatihan produksi. Sejumlah engineer PAL juga menjalani pelatihan di fasilitas Naval Group di Cherbourg, Prancis, selama kurang lebih tiga bulan. Tahap tersebut menjadi bagian penting dari proses untuk memastikan kesiapan teknis sebelum memasuki konstruksi penuh.
Meski demikian, ujian sesungguhnya bukan hanya apakah satu tahapan produksi berhasil dilalui. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah kemampuan tersebut dapat diulang pada kapal berikutnya, diterapkan pada komponen lain, dan digunakan dalam proyek berbeda tanpa ketergantungan berlebihan pada pendampingan asing.
Dengan demikian, Scorpène Evolved sebaiknya diposisikan sebagai platform pembelajaran industri. Kapal selam merupakan keluaran proyek, sedangkan kemampuan yang tertanam pada SDM, perusahaan, dan proses produksi merupakan aset jangka panjang bagi industri nasional.
Transfer Teknologi yang Terukur
Kontrak pengadaan dua unit Scorpène Evolved efektif sejak 23 Juli 2025. Naval Group menyatakan bahwa kedua kapal akan dibangun dan dikomisioning di Indonesia melalui skema transfer teknologi. Namun, pembangunan di dalam negeri tidak berarti seluruh komponen, teknologi, dan material diproduksi secara domestik.
Indonesia tetap terhubung dengan rantai pasok global. Dalam industri berteknologi tinggi, keterhubungan tersebut merupakan hal yang wajar. Karena itu, transfer teknologi tidak seharusnya diukur hanya dari klaim kemandirian, tetapi dari kemampuan yang benar-benar berpindah dan dapat digunakan kembali oleh industri nasional.
Beberapa pertanyaan penting perlu diajukan. Apakah engineer dan teknisi Indonesia semakin mampu mengerjakan proses produksi secara mandiri? Apakah proses tersebut dapat diulang dengan standar mutu yang konsisten? Seberapa besar porsi pekerjaan bernilai tambah tinggi yang dapat dilaksanakan di dalam negeri? Selain itu, apakah pemasok domestik mampu memenuhi standar kualitas, ketepatan waktu, dan keandalan yang dipersyaratkan?
Keberhasilan transfer teknologi juga perlu dilihat dari berkurangnya kebutuhan pendampingan tenaga ahli asing, meningkatnya jumlah proses yang dapat dikerjakan secara mandiri, bertambahnya pemasok domestik yang berhasil dikualifikasi, serta menurunnya tingkat cacat dan pekerjaan ulang. Peningkatan produktivitas, ketepatan waktu produksi, dan kemampuan menggunakan pengetahuan yang diperoleh pada kapal kedua maupun proyek lain juga menjadi ukuran yang tidak kalah penting.
Tanpa indikator semacam itu, transfer teknologi berisiko berhenti sebagai klausul kontraktual atau laporan administratif. Sebaliknya, apabila kompetensi tersebut dapat digunakan kembali dan terus dikembangkan, transfer teknologi akan menjadi bagian dari proses industrialisasi yang nyata.
Membangun Ekosistem, Bukan Hanya Galangan
Kapal selam merupakan salah satu produk manufaktur paling kompleks. Produk ini menuntut struktur dengan tingkat presisi tinggi, sistem mekanikal dan elektrikal yang rumit, pengujian berlapis, jaminan mutu yang ketat, serta integrasi berbagai subsistem.
Kompleksitas tersebut membuat keberhasilan proyek tidak dapat ditumpukan pada satu galangan saja. Di belakang PAL Indonesia terdapat rantai industri yang lebih luas, mulai dari pemasok material dan komponen, perusahaan rekayasa, penyedia jasa manufaktur, lembaga sertifikasi, perguruan tinggi, hingga tenaga kerja terampil.
Semakin banyak mata rantai yang dapat dikerjakan perusahaan domestik tanpa menurunkan standar, semakin besar pula nilai ekonomi yang dapat dipertahankan di dalam negeri. Pemasok memperoleh pasar, perusahaan terdorong berinvestasi, tenaga kerja mendapatkan kesempatan, dan negara membangun basis manufaktur yang lebih kuat.
Berdasarkan sejumlah informasi, nilai keseluruhan kontrak dua kapal selam tersebut diperkirakan mencapai sekitar US$2,1 miliar atau kurang lebih Rp33 triliun. Sementara itu, berdasarkan Workshare Agreement yang ditandatangani pada Februari 2022, sekitar 30 persen nilai pekerjaan dialokasikan untuk dilaksanakan di dalam negeri.
Secara kasar, porsi tersebut setara dengan sekitar US$630 juta atau hampir Rp10 triliun. Namun, angka ini perlu dibaca secara hati-hati. Nilai pekerjaan domestik tidak otomatis sama dengan nilai tambah bersih yang seluruhnya tinggal di Indonesia, karena sebagian pekerjaan masih dapat menggunakan material, komponen, teknologi, atau layanan dari luar negeri.
Karena itu, evaluasi tidak cukup hanya menanyakan berapa persen pekerjaan yang dilakukan di dalam negeri. Hal yang lebih penting adalah jenis pekerjaan apa yang dikerjakan, seberapa besar kandungan keahlian domestiknya, dan apakah pekerjaan tersebut mampu menciptakan kapasitas yang dapat digunakan kembali.
Dari Proyek Pertahanan ke Industri Maritim
Makna program Scorpène Evolved melampaui sektor pertahanan. Kemampuan yang dibangun untuk mengerjakan kapal selam—seperti manufaktur presisi, pengelasan, rekayasa material, rekayasa mekanikal dan elektrikal, rekayasa digital, manajemen proyek, kendali mutu, serta pemeliharaan—memiliki irisan yang luas dengan industri maritim lainnya.
Pengalaman mengerjakan produk berteknologi tinggi dapat meningkatkan kemampuan organisasi dan tenaga kerja PAL Indonesia secara keseluruhan. Kompetensi tersebut berpotensi memberikan dampak positif pada lini bisnis lain, termasuk pembangunan kapal permukaan, pemeliharaan kapal, integrasi sistem, dan pekerjaan rekayasa maritim.
Hal ini relevan bagi Indonesia sebagai negara kepulauan dengan kebutuhan armada yang besar. Tantangan industri galangan nasional tidak hanya berkaitan dengan kapasitas produksi, tetapi juga kontinuitas pesanan, produktivitas, kemampuan pemasok, kualitas SDM, serta kepastian investasi.
Dalam konteks tersebut, proyek strategis seperti Scorpène Evolved dapat berfungsi sebagai anchor project. Proyek ini memberi pengalaman, permintaan, dan standar teknis yang dapat mendorong investasi jangka panjang pada kemampuan industri.
Namun, fungsi tersebut hanya akan tercapai jika pembelajaran dari proyek ini diteruskan ke proyek berikutnya. Pengetahuan tidak boleh berhenti pada individu atau tim tertentu. Ia harus dikodifikasi menjadi prosedur, standar kerja, sistem pelatihan, basis data teknis, dan kemampuan organisasi.
Kemandirian yang Realistis
Sangat sedikit industri modern yang benar-benar berdiri sendiri dan terlepas dari rantai pasok global. Bahkan negara dengan industri pertahanan maju tetap mengandalkan pemasok internasional untuk komponen tertentu, terutama apabila volume kebutuhannya kecil atau teknologinya sangat spesifik.
Target yang lebih realistis adalah memperbesar penguasaan atas bagian-bagian strategis yang layak dikembangkan di dalam negeri. Untuk komponen dengan kebutuhan berulang dan pasar yang cukup besar, pengembangan pemasok domestik dapat menciptakan skala ekonomi yang sehat. Sementara itu, untuk teknologi yang sangat kompleks, fokus dapat diarahkan pada kemampuan integrasi, rekayasa, pengujian, pengoperasian, dan pemeliharaan.
Dengan pendekatan tersebut, keberhasilan program Scorpène Evolved tidak cukup diukur dari persentase kandungan lokal. Pertanyaan yang lebih penting adalah: kemampuan apa yang sebelumnya belum dimiliki Indonesia, tetapi setelah proyek ini berjalan dapat digunakan secara berulang dalam proyek lain?
Di sinilah letak perbedaan antara transfer teknologi yang substantif dan transfer teknologi yang bersifat formalitas. Transfer yang substantif meninggalkan proses, kompetensi, standar, dan kapasitas pemecahan masalah. Transfer yang hanya bersifat formal berhenti pada pelatihan, dokumentasi, atau pemenuhan persyaratan kontrak tanpa membentuk kemampuan yang berkelanjutan.
Investasi, SDM, dan Perguruan Tinggi
Industrialisasi yang berhasil membutuhkan lebih dari sekadar fasilitas produksi modern. Investasi harus meningkatkan produktivitas, memperpendek waktu produksi, memperbaiki kualitas, menurunkan tingkat pekerjaan ulang, atau memperluas jangkauan teknologi yang dikuasai.
Pada akhirnya, manusia tetap menjadi faktor penentu. Pelatihan engineer dan teknisi harus menghasilkan kompetensi yang teruji melalui pekerjaan nyata, bukan hanya sertifikat. Kompetensi tersebut perlu dibuktikan melalui kemampuan menyelesaikan masalah, memenuhi standar mutu, dan bekerja secara mandiri dalam proses produksi.
Kolaborasi dengan perguruan tinggi juga perlu diarahkan pada persoalan industri yang konkret, seperti optimasi desain, rekayasa material, teknologi pengelasan, otomasi, rekayasa digital, efisiensi energi, pengujian, dan predictive maintenance.
Perguruan tinggi tidak cukup hanya menjadi pemasok lulusan. Ia perlu berperan sebagai mitra pemecahan masalah, pusat riset terapan, dan sumber pengembangan teknologi. Dengan demikian, galangan dapat berfungsi sebagai laboratorium industri yang sesungguhnya: setiap proyek menghadirkan persoalan nyata untuk diselesaikan, dan setiap pembelajaran dikembalikan menjadi perbaikan pada proses berikutnya.
Momentum yang Harus Menjadi Sistem
First steel cutting Scorpène Evolved layak dipandang sebagai simbol penting bagi penguatan teknologi maritim Indonesia. Namun, maknanya tidak terletak pada seremoni pemotongan baja semata. Maknanya berada pada proses yang mengiringinya: pelatihan intensif, keberhasilan qualification section, penguatan fasilitas, penerapan standar manufaktur yang ketat, serta transfer pengetahuan yang benar-benar menghasilkan kompetensi.
Nilai sesungguhnya baru akan terlihat beberapa tahun ke depan. Ukurannya adalah apakah kemampuan yang dibangun hari ini mampu menghasilkan pekerjaan berkualitas yang berulang, pemasok domestik yang lebih kuat, engineer dan teknisi yang semakin kompeten, proses produksi yang semakin produktif, serta proyek baru dengan tingkat penguasaan teknologi yang lebih tinggi.
Jika siklus tersebut terbentuk, manfaat program tidak hanya dirasakan oleh PAL Indonesia atau TNI Angkatan Laut. Dampaknya dapat menyebar melalui investasi, rantai pasok, tenaga kerja, lembaga pendidikan, dan nilai tambah yang berputar di dalam perekonomian nasional.
Pada akhirnya, keberhasilan program Scorpène Evolved tidak ditentukan oleh seberapa meriah seremoni first steel cutting, melainkan kemampuan Indonesia mengubah pengalaman tersebut menjadi kapasitas industri yang dapat diulang, dikembangkan, dan digunakan untuk membangun masa depan maritim nasional.
* Penulis, Praktisi industri klasifikasi dan maritim; mahasiswa Pascasarjana Studi Pembangunan SAPPK ITB; Ketua Umum IKA Teknik Sistem Perkapalan Unhas
Kapal selam Scorpène Evolved dibangun di galangan PAL Indonesia, Surabaya. Pemotongan baja pertama dimulai 7 Agustus 2026 lalu. (Dok Militer Indonesia)

_1-300x200.webp)






