Ekonomi
Karier

Siapa Sosok Rusdi Mardan? Eksekutif Korporasi yang Dipercaya Memimpin Transformasi Hadin



Rusdi Mardan, terpilih sebagai Direktur Utama PT Hadin Metavisi Akademika Periode 2026-2030. (Dok Unhas TV)


Target besar Rusdi adalah membawa Hadin menjadi holding company ekosistem kampus terdepan di Indonesia pada 2030. Untuk mencapai itu, ia menyusun lima agenda utama.

Pertama, profitabilitas yang sehat melalui kinerja keuangan yang kuat dan berkelanjutan. Kedua, ekosistem digital terintegrasi melalui super app.

Ketiga, diversifikasi usaha berbasis kemitraan strategis. Keempat, tata kelola profesional berbasis good corporate governance dan indikator kinerja utama. Kelima, pengembangan talenta profesional yang kompeten, adaptif, dan berintegritas.

Program 100 hari pertama menjadi bagian paling rinci dari agenda Rusdi. Ia membaginya dalam tiga fase. Pada 30 hari pertama, Hadin akan fokus pada stabilisasi keuangan.

Langkahnya meliputi evaluasi menyeluruh terhadap seluruh unit usaha, pengendalian biaya, identifikasi inefisiensi, quick win untuk memperbaiki arus kas, serta penguatan tata kelola dan tim.

Pada hari ke-31 hingga ke-60, Hadin akan masuk ke fase akselerasi bisnis dan ekosistem digital. Rusdi menyiapkan pengembangan super app Hadin, integrasi layanan dan data bisnis, aktivasi kemitraan strategis, serta optimalisasi captive market dan program membership.

"Fase ini dimaksudkan untuk mengubah potensi pasar internal kampus menjadi aktivitas ekonomi yang terukur," jelas Rudin Mardan di hadapan tiga panelis seleksi Dirut Hadin di studio Unhas TV.

Pada hari ke-61 hingga ke-100, fokus akan bergeser ke pembuktian kinerja. Hadin menargetkan peningkatan pendapatan dan profitabilitas, perbaikan portofolio unit usaha, penggunaan dashboard bisnis real-time, serta target laba positif.

Pada akhir 100 hari, Rusdi ingin unit usaha yang merugi mulai sehat, efisiensi biaya terasa, ekosistem digital mulai berjalan, dan fondasi pertumbuhan berkelanjutan terbentuk.

Selain menata bisnis yang sudah ada, Rusdi menaruh perhatian pada hilirisasi riset kampus. Ia menyebut Hadin harus menjadi penghubung antara riset dosen dan mahasiswa dengan industri serta pasar.

“Hadin harus menjadi bridging antara riset dan pasar. Banyak hasil penelitian yang memiliki potensi ekonomi besar, tetapi membutuhkan kendaraan bisnis yang mampu membawa inovasi tersebut kepada masyarakat,” kata dia.

Agenda itu menempatkan Hadin bukan sekadar operator bisnis kampus. Rusdi ingin perusahaan itu menjadi mesin komersialisasi pengetahuan dari Unhas.

Produk riset yang layak pasar, kata dia, perlu masuk dalam jalur bisnis yang jelas, mulai dari validasi produk, kemitraan, pembiayaan, produksi, hingga distribusi.

Tantangan Rusdi tidak kecil. Ia harus menata unit usaha yang berbeda karakter, membangun sistem digital, memperbaiki tata kelola, dan membuktikan bahwa pasar internal kampus dapat menjadi basis bisnis yang sehat.

Namun, pengalaman panjangnya di telekomunikasi, barang konsumsi, dan pengelolaan penjualan nasional menjadi modal untuk membaca tantangan tersebut.

Di hadapan tim seleksi, Rusdi datang dengan pesan yang tegas. Hadin harus tumbuh dari fondasi keuangan yang sehat, pasar yang jelas, dan tata kelola yang profesional.

Ia menawarkan jalan korporasi bagi ekosistem kampus Unhas. Ukurannya tidak hanya omzet, tetapi kemampuan Hadin mengubah aset akademik, komunitas kampus, dan riset menjadi nilai ekonomi yang berkelanjutan.

(Rahmatia Ardi / Unhas TV)