BULUKUMBA, UNHAS.TV - Universitas Hasanuddin (Unhas) dan Badan Pengawas Pemilihan Umum Kabupaten Bulukumba memperkuat kemampuan pemilih pemula menghadapi manipulasi politik berbasis kecerdasan buatan.
Kolaborasi ini menyasar ancaman penargetan mikro atau micro-targeting, penyalahgunaan data pribadi, serta penyebaran konten manipulatif yang berpotensi merampas kedaulatan pemilih.
Upaya tersebut diwujudkan melalui Dialog Publik dan Sosialisasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang digelar Tim Pengabdian Kemitraan Masyarakat Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM LPPM) Unhas bersama Bawaslu Bulukumba, Sabtu (29/8/2026).
Acara berlangsung di Ruang Kahayya, Gedung Phinisi, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Pesertanya terdiri atas siswa SMA di Kecamatan Ujung Bulu, staf Komisi Pemilihan Umum dan Bawaslu Bulukumba, serta perwakilan masyarakat.
Pelibatan siswa diarahkan untuk membangun daya tahan pemilih pemula yang menjadi salah satu kelompok paling rentan terhadap operasi politik di ruang digital.
Ketua Bawaslu Bulukumba Bakri Abubakar mengatakan kerawanan pemilu di wilayahnya kini tidak hanya muncul melalui pelanggaran konvensional. Ancaman juga bergerak melalui media sosial dan percakapan tertutup di grup WhatsApp.
Menurut Bakri, ketidaknetralan aparatur sipil negara di ruang digital dan penyebaran hoaks menjadi dua kerawanan yang perlu diwaspadai.
.webp)
Tim PKM LPPM Unhas dan Bawaslu Bulukumba menggelar dialog publik di Gedung Phinisi, Bulukumba, Sabtu (29/8/2026). Kegiatan ini untuk membentengi pemilih pemula dari manipulasi politik berbasis AI melalui edukasi literasi digital. (Dok PKM LPPM Unhas)
Salah satu contohnya ialah peredaran video Ketua Bawaslu Bulukumba yang telah dimodifikasi untuk menggiring opini publik.
Ia menilai metode pengawasan pemilu harus beradaptasi dengan perubahan tersebut.
Kolaborasi dengan perguruan tinggi diperlukan untuk mengembangkan pengawasan digital dan memasukkan analisis teknologi ke dalam Indeks Kerawanan Pemilu. Instrumen itu diharapkan dapat berfungsi sebagai sistem peringatan dini.
Ketua Tim PKM Unhas Endang Sari mengatakan persoalan pemilu tidak lagi berhenti pada urusan teknis di bilik suara. Perhatian juga harus diarahkan pada proses pembentukan pilihan sebelum pemilih datang ke tempat pemungutan suara.
Pemilih muda, kata Endang, berisiko menjadi sasaran manipulasi karena aktivitas digital mereka menghasilkan jejak data dalam jumlah besar.
Tanpa literasi yang memadai, data tersebut dapat digunakan untuk memetakan preferensi, kecemasan, dan kecenderungan politik seseorang.
“Program kemitraan ini menjadi bentuk kehadiran kampus dalam mendampingi pemilih pemula dan pengawas pemilu siber lokal,” kata Endang. Pendampingan difokuskan pada keamanan data pribadi dan perlindungan hak suara.
Pesan Politik Menyusup ke Ruang Privat
>> Baca Selanjutnya
Tim PKM LPPM Unhas dan Bawaslu Bulukumba menggelar dialog publik di Gedung Phinisi, Bulukumba, Sabtu (29/8/2026). Kegiatan ini untuk membentengi pemilih pemula dari manipulasi politik berbasis AI melalui edukasi literasi digital. (Dok PKM LPPM Unhas)








