
BRIN - Kuliah Umum yang digelar Fakultas Teknik Unhas menghadirkan Deputi Bidang Infrastruktur Riset dan Inovasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dr Ir Dadan Moh Nurjaman MT IPU di Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin (Unhas), Gowa, Rabu (30/9/2026). (Unhas TV / Mustika Syaharuddin)
Sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem riset, Universitas Hasanuddin tengah menginisiasi pembentukan BRIN Unhas Innovation Center atau BRIONIC.
BRIONIC masih berada dalam tahap perancangan awal dan diarahkan sebagai wadah untuk memperkuat kolaborasi antara Unhas, BRIN, serta peneliti dari berbagai institusi.
Wakil Rektor Bidang Kemitraan, Internasionalisasi, dan Kealumnian Unhas, Prof Ir Suharman Hamzah ST MT PhD Eng HSE Cert., menjelaskan bahwa BRIONIC diharapkan dapat menjadi penghubung dalam pengembangan riset, publikasi ilmiah, dan pemanfaatan infrastruktur penelitian.
“BRIONIC ini kita harapkan ke depan itu bisa menjadi jembatan antara peneliti-peneliti kawasan timur. Sehingga kerja sama dengan BRIN itu bisa kita fasilitasi, sehingga Unhas nanti akan menjadi hub di kawasan timur ini untuk pengembangan riset, penelitian, publikasi, serta infrastruktur riset yang dapat dimanfaatkan bersama,” ujar Suharman.
Menurut Suharman, konsep BRIONIC diarahkan agar fasilitas penelitian yang dimiliki oleh Unhas maupun BRIN dapat dimanfaatkan secara bersama untuk mendukung kegiatan riset.
Selain membahas penguatan infrastruktur penelitian, kolaborasi Unhas dan BRIN juga berkaitan dengan pengembangan riset kebumian serta pemanfaatan potensi sumber daya alam.
Wakil Dekan Bidang Riset, Inovasi, Kemitraan, dan Alumni Fakultas Teknik Unhas, Prof Ir Muhammad Bachtiar Nappu, ST MT MPhil PhD menjelaskan bahwa potensi sumber daya alam membutuhkan dukungan riset agar dapat dikembangkan dengan pendekatan berbasis ilmu pengetahuan.
Menurut Bachtiar, sinergi antara BRIN dan perguruan tinggi dapat mendukung proses penelitian dari tahap awal hingga menghasilkan inovasi yang dapat diterapkan.
“Bagaimana cara memanfaatkan? Tentu saja dengan sinergitas antara BRIN dengan segala kelengkapan fasilitas risetnya tentu akan memberikan dampak yang signifikan. Kita ketahui bahwa riset itu dimulai dari TPK 1 di hulu sampai ke hilir di TPK 8-9,” jelas Bachtiar.
Ia menjelaskan bahwa salah satu tantangan dalam pengembangan riset adalah proses menuju hilirisasi. Menurutnya, keberadaan fasilitas riset bersama dapat membantu penelitian agar tidak berhenti pada tahap pengembangan awal, tetapi dapat dilanjutkan hingga bekerja sama dengan mitra industri.
Kolaborasi antara Universitas Hasanuddin dan BRIN menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem riset yang lebih terintegrasi.
Melalui pengembangan BRIN Unhas Innovation Center (BRIONIC), penguatan infrastruktur penelitian, serta pemanfaatan fasilitas riset bersama, kerja sama ini diarahkan untuk mendukung pengembangan penelitian dan inovasi.
Kegiatan kuliah umum di Fakultas Teknik Unhas menjadi ruang diskusi mengenai penguatan ekosistem riset, pengembangan riset kebumian, serta peluang kolaborasi antara perguruan tinggi dan lembaga riset nasional.
(Mustika Syaharuddin / Unhas TV)

-300x161.webp)






