Pendidikan

Unhas Dorong Kolaborasi Riset Lintas Sektor untuk Wujudkan Masa Depan Tangguh

The 5th International Conference on Research, Science and Community Services (IC-RiCoS) 2026. Foto: Unhas

UNHAS.TV - Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Hasanuddin (Unhas) menyelenggarakan The 5th International Conference on Research, Science and Community Services (IC-RiCoS) 2026.

Konferensi internasional mengusung tema "Fostering Resilient Futures: Multidisciplinary Innovations in Science, Technology, Society, and Policy", di Aula LPPM Unhas, 3-4 November 2026.

Konferensi menghadirkan empat pembicara kunci dari empat negara hadir yakni Rajeshwaran Ramaraj MSc MPhil PhD (Thailand), Dr Wendy A Medina De Loera PhD (Meksiko), Prof Yusnita Rifai MPharm PhD Apt (Indonesia), dan doc Ing Martina Pásková PhD (Czechoslovakia)

Ketua panitia konferensi, Dr Eng Ilham Alimuddin ST MGis menjelaskan bahwa konferensi ini telah diinisiasi sejak 2019 sebagai konferensi internasional bidang lingkungan dan pembangunan berkelanjutan. 

"Tahun ini namanya berubah dengan memasukkan community services, sebagai penegasan bahwa tantangan masa kini menuntut pendekatan multidisiplin serta keterpaduan antara riset, inovasi teknologi, kebijakan sosial, dan pengabdian kepada masyarakat," kata Ilham.

Riset tidak hanya memajukan ilmu pengetahuan, tetapi juga harus berdampak bagi masyarakat. Melalui forum ilmiah ini, Ilham berharap, terhimpun gagasan dan rekomendasi yang bisa menjadi rujukan pemerintah.

Wakil Ketua Bidang Pengabdian kepada Masyarakat LPPM Unhas Prof Ir Muhammad Arsyad SP MSi PhD menyebut salah satu tujuan mendasar konferensi ini adalah membangun kolaborasi dan kemitraan, serta mengangkat isu lokal yang berdampak global.

Konferensi dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Kemitraan, Internasionalisasi, dan Alumni Unhas, Prof Ir Suharman Hamzah PhD (Eng.) HSE.

Prof Suharman mengatakan bahwa tema ketangguhan sangat relevan dengan kondisi Indonesia yang rawan bencana, mulai dari gempa bumi, tsunami, letusan gunung api, kebakaran hutan, banjir, hingga kekeringan.

Ia merujuk analisis risiko global Bank Dunia yang menempatkan Indonesia di peringkat ke-12 dari 35 negara dengan risiko kematian tinggi akibat berbagai bahaya.

Konferensi diikuti sekitar 200 peserta, lebih dari 80 persen di antaranya berasal dari Thematic Research Group (TRG) Unhas. Kolaborasi yang terbangun diharapkan tidak berhenti di forum ini, tetapi berlanjut menjadi kemitraan riset yang nyata.(*)