News
Travel

Wajah Lain Industri Nikel di Morowali

Catatan Anwar Mattawape di Morowali*

Ada dua pemandangan yang membuat saya terkejut ketika mengunjungi kawasan industri PT Indonesia Huabao Industrial Park (IHIP) di Morowali, Sulawesi Tengah.

Pertama, lingkungan industrinya yang bersih dan tertata. Kedua, sebuah ruang kendali smelter yang seluruh pekerjanya perempuan, sebagian besar mengenakan jilbab.

Saya datang bersama Irfan Idam, Direktur PT MDI, serta Rudy Wijaya, mitra kami. Kami diterima dan didampingi Mr. Cai Zhengyang, atau yang akrab disapa Mr. Chai, Direktur Eksekutif IHIP.

Kunjungan ini memberi kesempatan kepada kami untuk melihat langsung aktivitas industri pengolahan nikel, sekaligus memahami bagaimana sebuah kawasan industri berskala besar dikelola.

Sebelum berkunjung, bayangan saya tentang kawasan industri nikel tidak jauh dari debu, kendaraan berat, dan lingkungan kerja yang keras. Gambaran itu terbentuk dari berbagai cerita dan pemberitaan mengenai aktivitas pertambangan di sejumlah daerah.

Namun, apa yang saya saksikan di IHIP memberikan kesan berbeda.

Kantornya bersih dan tertata. Begitu pula sejumlah area industri yang kami kunjungi. Saya melihat adanya perhatian terhadap kebersihan dan keteraturan lingkungan kerja.

Hal ini menarik karena kegiatan pengolahan mineral memiliki tantangan lingkungan yang tidak sederhana.

Saya tentu tidak bisa menyimpulkan keseluruhan kinerja lingkungan perusahaan hanya dari satu kunjungan. Pengelolaan limbah, kualitas air, emisi, dan dampak terhadap masyarakat tetap membutuhkan penilaian berdasarkan data.

Namun, pengalaman ini memperlihatkan bahwa kebersihan dan keteraturan dapat menjadi bagian penting dari pengelolaan kawasan industri.





IHIP merupakan kawasan industri berbasis pengolahan nikel yang berlokasi di Desa Topogaro, Kecamatan Bungku Barat, Kabupaten Morowali. Kawasan yang mulai dikembangkan pada 2021 ini merupakan bagian dari Zhenshi Holding Group, dengan rencana pengembangan lahan sekitar 20.000 hektare.

Selain fasilitas pengolahan nikel, kawasan tersebut dilengkapi infrastruktur pendukung, termasuk pelabuhan, pembangkit listrik, dan fasilitas logistik.

Keberadaan IHIP menjadi bagian dari perkembangan Morowali sebagai pusat hilirisasi mineral Indonesia. Bagi saya, perkembangan ini penting bukan hanya karena nilai investasinya, melainkan juga karena perubahan yang dibawanya terhadap cara bekerja dan kesempatan masyarakat untuk terlibat dalam industri modern.

Salah satu pengalaman paling berkesan terjadi ketika kami memasuki ruang kendali smelter. Di hadapan deretan layar komputer yang menampilkan berbagai informasi operasional, saya melihat para pekerja sedang menjalankan tugasnya.

Menariknya, seluruh operator yang saya jumpai adalah perempuan. Sekitar 60 hingga 70 persen di antaranya mengenakan jilbab. Saya tidak menyangka akan menemukan pemandangan seperti itu di sebuah industri pengolahan nikel.



Selama ini, pekerjaan di sektor pertambangan dan smelter sering diasosiasikan dengan laki-laki. Namun, perkembangan teknologi telah membuka kesempatan yang lebih luas bagi perempuan untuk menjalankan pekerjaan teknis, termasuk mengawasi proses produksi melalui sistem kendali digital.

Saya membayangkan sebagian dari mereka mungkin berasal dari Morowali atau daerah lain di Sulawesi. Mereka kini menjadi bagian dari industri yang terhubung dengan rantai pasok global.

Tentu, asal daerah dan latar belakang para pekerja tersebut masih perlu diketahui lebih jauh. Namun, kehadiran mereka saja sudah memberikan gambaran menarik tentang perubahan dunia kerja.

Ada sesuatu yang menggembirakan ketika melihat perempuan-perempuan Indonesia bekerja dengan teknologi modern tanpa harus meninggalkan identitas keseharian mereka. Jilbab yang mereka kenakan menjadi bagian dari pemandangan ruang kerja yang dipenuhi perangkat digital.

Pengalaman itu membuat saya berpikir tentang makna industrialisasi bagi Indonesia. Kita sering mengukur keberhasilannya melalui besarnya investasi, kapasitas produksi, atau nilai ekspor.

Padahal, ada ukuran lain yang tidak kalah penting, yakni kemampuan industri menciptakan kesempatan kerja, meningkatkan keterampilan manusia, dan membangun budaya kerja yang baik.

Saya berharap kawasan industri seperti IHIP terus memperkuat pengelolaan lingkungan dan membuka lebih banyak kesempatan bagi tenaga kerja Indonesia. Kemajuan industri seharusnya berjalan bersama peningkatan kualitas hidup masyarakat di sekitarnya.

Kunjungan bersama Irfan Idam kali ini memberi saya perspektif baru tentang Morowali. Saya berterima kasih kepada Mr. Chai yang telah mendampingi kami dan memberikan kesempatan melihat aktivitas di kawasan tersebut.



Ketika meninggalkan IHIP, saya teringat kembali pada dua pemandangan yang menyambut kunjungan kami. Kawasan industri yang bersih dan ruang kendali yang dioperasikan para perempuan.

Keduanya meninggalkan kesan bahwa masa depan industri Indonesia tidak cukup dibangun dengan modal dan mesin. Kita juga membutuhkan tata kelola yang baik, kepedulian terhadap lingkungan, serta sumber daya manusia yang mampu menguasai teknologi.

Sebab, pada akhirnya, kemajuan sebuah industri bukan hanya tentang apa yang dihasilkan oleh mesin-mesinnya, tetapi juga tentang bagaimana manusia dan lingkungan diperlakukan di dalamnya.


*Anwar Mattawape adalah CEO Titah Group, Sekjen Ikatan Alumni Teknik (Ikatek) Universitas Hasanuddin