Lingkungan
Program
Unhas Story

Zakiyyah Zahra, Putri Bumi yang Mengajak Anak Muda Makassar Melawan Sampah Plastik

Zakiyyah Zahra, Puteri Bumi Sulsel 2025 dan Puteri Remaja Makassar 2025. (Dok Unhas TV)

UNHAS.TV - Zakiyyah Zahra memilih hutan sejak bangku sekolah menengah. Waktu itu, ia aktif di Pramuka. Lapangan, pohon, dan jalur tanah menjadi ruang yang sering ia datangi.

Dari sana, minatnya tumbuh. Ia lalu memilih Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin (Fahutan Unhas) sebagai pilihan pertama saat mendaftar kuliah. Pilihan itu membawanya masuk ke dunia rimbawan muda.

Zahra kini duduk di semester empat. Ia mahasiswa angkatan 2024 Fakultas Kehutanan Unhas. Di luar kampus, namanya mulai dikenal setelah menyandang gelar Putri Bumi Sulawesi Selatan 2025.

Ia juga pernah meraih posisi juara dua Putri Remaja Makassar 2025. Dua ruang itu membentuknya sebagai mahasiswa, pegiat lingkungan, model, dan pembawa acara.

Dalam wawancara Unhas TV di program Unhas Story pada episode Hari Bumi, Zahra bercerita tentang jalur yang ia tempuh. Ia tidak datang dari ruang yang jauh dari alam.

Sejak kecil, keluarganya mendukung kegiatannya. Orang tuanya memberi ruang bagi Zahra untuk memilih bidang yang ia sukai. Karena itu, ketika ia memilih kehutanan, dukungan keluarga tidak putus.

Di Fakultas Kehutanan, Zahra menemukan sesuatu yang sesuai dengan bayangannya. Ia memang membayangkan kuliah yang banyak berisi praktik lapangan.

Namun ia tetap terkejut ketika mengetahui Unhas memiliki hutan pendidikan sendiri di Bengo-Bengo, Kabupaten Maros. Baginya, fasilitas itu membuat pilihannya terasa sangat tepat.

Namun kuliah kehutanan tidak hanya berisi perjalanan ke hutan. Zahra belajar bahwa kehutanan tidak berhenti pada kayu. Ia mengenal hasil hutan bukan kayu, lingkungan, ekosistem, dan relasi hutan dengan hidup manusia.

Ia menyebut hutan dekat dengan makanan, udara, dan keseharian manusia. Di kampus Unhas, ia merasakan perbedaan itu. Kawasan kampus yang teduh membuatnya melihat fungsi ruang hijau secara langsung.

Dari ruang kuliah dan lapangan, Zahra melihat masalah kehutanan sebagai perkara yang rumit. Ia menyinggung kerusakan hutan, pembukaan lahan, dan bencana ekologis yang kerap muncul di berbagai daerah.

Ia menyebut Aceh, Sumatera, Papua, dan Sulawesi Selatan sebagai contoh wilayah yang memperlihatkan wajah berbeda dari isu hutan.

Sebagian klaim itu ia sampaikan sebagai pandangan personal seorang mahasiswa kehutanan. Namun satu hal jelas dalam pesannya: kerusakan hutan tidak bisa dilihat sebagai urusan alam semata.

Bagi Zahra, manusia menjadi pusat persoalan. Pembabatan hutan, pembukaan lahan, dan abainya masyarakat terhadap lingkungan memperburuk risiko bencana.

Ia tidak ingin menyederhanakan persoalan hanya pada satu pihak. Tetapi ia menekankan perlunya kesadaran bersama. Menurut dia, generasi muda tidak perlu menunggu jabatan, gelar, atau posisi formal untuk berbicara tentang lingkungan.

Ia melihat media sosial sebagai ruang yang bisa dipakai anak muda. Kampanye tentang Papua, Aceh, dan isu kehutanan lain dapat bergerak cepat lewat unggahan, komentar, dan berbagi informasi. Zahra menilai langkah kecil di ruang digital tetap punya nilai. Yang penting, anak muda tidak apatis.

Uji Tubuh dan Mental, Tanpa Gawai Tanpa Mandi

>> Baca Selanjutnya