Opini

Dan Peluru Itu Adalah Kata-Kata

Prof Khusnul Yaqin: Kata-kata sebagai senjata kesadaran—membedah perang asimetris lewat bahasa dan makna di ruang publik. Prof Khusnul Yaqin: Kata-kata sebagai senjata kesadaran—membedah perang asimetris lewat bahasa dan makna di ruang publik.

Oleh: Khusnul Yaqin*

“Mereka yang turun ke jalan bukan sedang memperjuangkan rakyat, melainkan menjual martabat bangsa demi tepuk tangan musuh. Tangan mereka belum kering dari darah, dan tangan Trump basah oleh darah rakyat Iran.”

(Imam Ali Khamenei)

اَلْكَلَامُ إِذَا قَلَّ نَفَعَ، وَإِذَا كَثُرَ ضَرَّ.

Perkataan itu, bila sedikit memberi manfaat; dan bila berlebihan justru mendatangkan mudarat.

(Imam Ali ibn Abi Talib)

Hadis dari Imam Ali ini bukan sekadar etika personal dalam berbicara. Ia adalah teori kekuasaan bahasa. Ia menyingkap hukum dasar komunikasi dalam situasi genting: bahwa kata, ketika terukur, menjadi obat bagi akal dan masyarakat; tetapi ketika berlebihan, berubah menjadi racun yang merusak kesadaran kolektif. Dalam konteks konflik modern, inilah kaidah pertama perang asimetris: bahasa yang tepat menguatkan, bahasa yang berlimpah justru melemahkan.

Dalam perang asimetris, peluru tidak selalu ditembakkan dari senapan. Ia sering diluncurkan dari kata. Kata yang tepat dapat memobilisasi jutaan, sementara kata yang salah dapat menjatuhkan sebuah bangsa bahkan sebelum musuh menekan pelatuk. Inilah medan di mana bahasa Pemimpin Iran bekerja—bukan sebagai retorika hampa, tetapi sebagai arsitektur kesadaran.

Bahasa dalam pidato-pidato Imam Ali Khamenei selama perang asimetris bukan bahasa kompromi, bukan pula bahasa diplomasi salon. Ia adalah bahasa garis batas. Dalam kajian linguistik politik, ini disebut boundary-setting discourse: bahasa yang menentukan siapa “kita” dan siapa “mereka”. Ketika ia menyebut sebagian demonstrasi sebagai “kerusuhan” dan bukan “gerakan rakyat”, beliau sedang menunjukkan fakta sekaligus melakukan reframing—menggeser makna dari aspirasi yang digelontorkan Amerika menjadi sabotase. Ini bukan manipulasi; ini adalah strategi bertahan hidup sebuah negara yang sedang dikepung.

Dalam perang asimetris, musuh paling berbahaya bukan yang menyerang dari luar, tetapi yang merusak definisi dari dalam. Dalam konteks ini, pelabelan yang dilakukan Imam Ali Khamenei bekerja sebagai tameng semantik. Ia mencegah kebingungan moral, karena dalam perang asimetris, kebingungan adalah pintu masuk infiltrasi.

Perhatikan penggunaan deiksis dalam pidatonya—ungkapan seperti “presiden negara lain”. Secara linguistik, ini bukan sekadar rujukan. Ia adalah penunjuk arah kesadaran. Dengan satu frasa, pikiran publik diarahkan dari gang sempit demonstrasi menuju panggung geopolitik global. Ini adalah teknik externalization: menempatkan sumber instabilitas bukan pada tubuh bangsa, melainkan pada tangan hegemoni asing yang tak terlihat namun terasa dampaknya.

Di sinilah bahasa berubah menjadi perlawanan. Ketika Imam Ali Khamenei menyatakan bahwa mereka yang merusak negeri sendiri “ingin menyenangkan musuh”, ia sedang mematahkan ilusi netralitas. Dalam filsafat perlawanan, tidak ada ruang abu-abu ketika sebuah bangsa diserang secara ekonomi, media, dan psikologis. Diam adalah posisi. Netral adalah ilusi.

Secara performatif, kalimat “kami tidak menoleransi kolaborasi dengan asing” bukan sekadar ancaman. Dalam teori tindak tutur (speech act theory), ini adalah ujaran normatif: bahasa yang menciptakan realitas politik. Ia menetapkan garis merah, mengirim sinyal kepada aparat, birokrasi, dan rakyat bahwa negara memahami apa yang sedang terjadi dan tidak akan membiarkan kekuasaan diretas dari dalam.


Ilustrasi perang asimetris, ketika kata-kata menjadi senjata perlawanan di tengah tekanan geopolitik global.
Ilustrasi perang asimetris, ketika kata-kata menjadi senjata perlawanan di tengah tekanan geopolitik global.


Revolusi sejati bukan sekadar mengganti rezim, tetapi mengganti cara berpikir. Di sinilah efektivitas bahasa Imam Ali Khamenei paling terasa. Ia tidak berusaha memikat simpati Barat. Ia justru memutus ketergantungan psikologis pada pengakuan musuh. Dengan menyebut tangan Amerika “ternoda darah rakyat”, ia menggunakan bahasa moral, bukan teknokratis. Bahasa ini tidak memerlukan statistik; ia bekerja langsung pada ingatan kolektif tentang sanksi, perang, dan penderitaan.

Dalam politik perlawanan terhadap hegemoni Amerika–Israel, bahasa semacam ini berfungsi ganda. Ke dalam, ia mengonsolidasikan identitas nasional sebagai subjek sejarah, bukan objek eksperimen geopolitik. Ke luar, ia mengirim pesan deterrence: bahwa Iran membaca demonstrasi bukan sebagai isu domestik, melainkan sebagai front lain dari perang yang sama.

Namun, bahasa perlawanan harus selalu dijaga agar tidak berubah menjadi bahasa kekuasaan yang tuli. Tantangannya bukan pada ketegasan, melainkan pada keadilan makna—memisahkan dengan jernih antara rakyat yang terluka dan operasi yang ditunggangi.

Pada akhirnya, ukuran kemenangan dalam perang asimetris bukan ketenangan sesaat di jalan, melainkan ketahanan kesadaran nasional dari infiltrasi dan manipulasi. Dan di medan inilah, bahasa—jika jujur, tegas, dan sadar sejarah—menjadi senjata yang tak terkalahkan.(*)

*Penulis adalah Guru Besar Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin