Ekonomi

Iran dan AS Berperang, Ekonomi China Justru Meningkat

MAKASSAR, UNHAS.TV - Perang yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel, justru membawa banyak keuntungan kepada China. Data terbaru menunjukkan terjadi pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dari apa yang diperkirakan sebelumnya.

Hingga trwiwulan pertama 2026, Gross Domestic Product (GDP) China naik 5% dalam tiga bukan pertama tahun ini dibandingkan tahun lalu. Sebelumnya para ekonomi China memperkirakan China bertumbuh 4,8%.

Salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi China datang dari sektor manufaktur, khususnya industri kendaraan roda empat. Adapun sektor investasi properti sedikit melambat.

Peningkatan ini bagi sebagian ekonom dunia, terkesan aneh karena industri manufaktur sangat bergantung pada sektor energi. Untungnya, China punya hubungan erat dengan Iran sehingga sektor energi, khususnya pada ketersediaan bahan bakar, tidak terlalu punya dampak. 

Kebijakan tarif ekspor bolak-balik yang diberlakukan oleh Amerika Serikat kepada negara lain, termasuk China, juga tidak memiliki dampak sangat nyata. Saat ini, China menghadapi tarif ekspor 10 persen dari Amerika Serikat.

Kendati demikian, China berharap konflik di Asia Barat bisa segera diselesaikan secepatnya agar bisa mengembalikan laju ekspor yang pada bulan lalu sempat melambat menjadi 2,5%.(*)