Oleh: Muhammad Thaufan Arifuddin*
Apakah anda pernah menonton film limited series di Netflix berjudul FIFA uncovered? Fenomena skandal dan konspirasi bukan hal baru di tubuh FIFA sejak lahir sebagai organisasi olahraga dan bisnis besar. Skandal ini bisa terlihat kembali dalam kadar yang berbeda pada Piala Dunia 2026.
Piala Dunia 2026 telah mencatatkan sejarah baru sebagai turnamen paling megah sekaligus paling kontroversial dalam sejarah sepak bola modern. Diselenggarakan di tiga negara raksasa Amerika Utara—Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko—turnamen ini menjanjikan pesta sepak bola yang inklusif dan meriah.
Namun, di balik gemerlap lampu stadion dan rekor jumlah penonton, media sosial justru bergejolak. Netizen di seluruh dunia meramaikan lini masa dengan kritik tajam, menuduh FIFA telah mengorbankan nilai fair play demi menjaga narasi sang GOAT, Lionel Messi, tetap berada di puncak dunia.
Fenomena hujatan netizen ini bukan tanpa alasan. Ada benang merah yang dirasakan pencinta sepak bola antara regulasi turnamen yang dinilai janggal, skenario pertandingan yang dianggap diatur, hingga bias teknologi VAR yang merugikan sportivitas.
Panggung Megah Tiga Negara
Piala Dunia 2026 menjadi edisi pertama yang diikuti oleh 48 negara, sebuah lonjakan drastis dari format 32 tim yang sudah mapan selama puluhan tahun. Keputusan FIFA untuk membagi tuan rumah ke dalam tiga negara besar sejatinya dipuji dari sudut pandang pemasaran dan diplomasi global. Pertandingan tersebar dari megahnya Stadion Azteca di Meksiko, atmosfer modern di Atlanta, hingga dinginnya Toronto.
Namun, bagi netizen dan pengamat sepak bola kritis, format baru ini dirasa terlalu dipaksakan. Perjalanan antarnegara yang melelahkan terutama timnas IRAN yang lagi berkonflik secara politik dengan Amerika Serikat, perbedaan zona waktu yang ekstrem, dan pembengkakan jumlah pertandingan dinilai menurunkan kualitas fisik para pemain. Banyak yang menuduh bahwa perluasan ini hanyalah taktik FIFA untuk meraup keuntungan komersial sebesar-besarnya dari hak siar dan tiket pertandingan dengan nilai puluhan hingga ratusan juta rupiah. Harga tiket termahal untuk menyaksikan laga Piala Dunia 2026 menembus angka hingga $32.970 (sekitar Rp583 juta) per lembar untuk kategori premium dan hospitality.
Di tengah kelelahan logistik ini, sorotan tajam mulai mengarah pada bagaimana jadwal dan bagan pertandingan disusun, yang memicu kecurigaan awal tentang adanya keistimewaan untuk tim-tim tertentu, khususnya sang juara bertahan, Argentina.

Kontroversi membayangi Piala Dunia saat kepercayaan publik terhadap fair play dipertanyakan dunia sepak bola. (Ilustrasi: ChatGPT).
Rute "Karpet Merah" Argentina Melawan Negara Kelas Dua
Salah satu pemicu utama ledakan amarah netizen di platform seperti X (Twitter), TikTok, dan Instagram adalah jalur pertandingan yang dihadapi Argentina di fase grup hingga babak gugur awal. Berbeda dengan grup lain yang menyajikan partai-partai berdarah antar-raksasa, Argentina justru dinilai mendapatkan rute yang relatif mulus.
Netizen menyoroti bagaimana Albiceleste kerap dipertemukan dengan negara-negara yang secara peringkat FIFA berada di kelas dua atau tiga. Penampilan Argentina saat bersua tim-tim dengan tradisi sepak bola yang belum matang ini memicu narasi karpet merah. Bukannya melihat perjuangan spartan melawan tim-tim elite Eropa seperti Prancis, Inggris, atau Spanyol di fase awal, penonton justru disuguhi laga-laga di mana Argentina mendominasi secara absolut atas tim-tim semenjana.
Bagi netizen, ini bukan lagi masalah keberuntungan undian. Di era digital di mana algoritma dan statistik bisa diakses siapa saja, skema pertandingan ini dituduh sengaja dirancang oleh FIFA agar Lionel Messi dan kolega dapat melenggang jauh ke babak puncak tanpa harus terkuras energinya di awal turnamen. Keberadaan Argentina di fase-fase krusial dinilai sebagai jaminan rating penonton dan nilai jual sponsor tertinggi bagi FIFA.
Pelanggaran Messi dan Proteksi Berlebih
Puncak dari segala kekecewaan netizen bermuara pada runtuhnya prinsip fair play yang selama ini dikampanyekan secara masif oleh FIFA dengan slogan "My Game is Fair Play". Narasi "penganakemasan" Lionel Messi mencapai level baru di Piala Dunia 2026. Di lapangan, kapten Argentina tersebut dinilai mendapatkan perlindungan hukum yang kebal dari wasit.
Netizen mengompilasi berbagai potongan video di Instagram dan X Twitter yang menunjukkan beberapa kali Messi melakukan pelanggaran personal yang cukup keras seperti menjatuhkan lawan dari belakang atau melakukan protes yang sangat agresif kepada wasit namun lolos tanpa ganjaran kartu kuning. Sebaliknya, ketika Messi kehilangan bola atau terjatuh karena kontak minimal, wasit dengan mudah meniup peluit dan memberikan pelanggaran. Fenomena diving atau aksi teatrikal yang sesekali terlihat di lapangan justru direspons wasit sebagai pelanggaran berat bagi tim lawan. Proteksi berlebih ini membuat netizen geram, menganggap bahwa menyentuh Messi di area penalti atau lini tengah adalah hal tabu yang diharamkan oleh korps baju hitam.
Drama Melawan Mesir dan Bias Penggunaan VAR
Kemarahan publik sepak bola dunia semakin membumbung tinggi saat menyaksikan pertandingan Argentina melawan salah satu representasi kuat dari Afrika, Mesir. Laga ini menjadi representasi visual dari hilangnya keadilan di atas lapangan hijau. Sepanjang pertandingan, para pemain Argentina memperagakan permainan yang sangat fisik, bahkan menjurus ke arah kasar untuk menghentikan serangan balik cepat para pemain Mesir.
Anehnya, hujan pelanggaran yang dilakukan oleh lini belakang dan tengah Argentina tersebut seperti tidak terlihat oleh wasit. Kartu peringatan sangat minim dikeluarkan, seolah-olah ada standar ganda yang diterapkan: pelanggaran oleh pemain Mesir langsung diganjar kartu, sementara pelanggaran serupa oleh pemain Argentina hanya berakhir dengan teguran lisan.
Di sinilah teknologi VAR (Video Assistant Referee), yang seharusnya menjadi dewa penolong keadilan, justru berubah menjadi alat yang tidak proporsional. Netizen menyoroti dua insiden besar dalam laga tersebut: Pertama, ketika pemain Argentina melakukan pelanggaran yang berpotensi kartu merah di kotak terlarang terhadap penyerang Mesir, wasit enggan melihat monitor VAR dan memilih melanjutkan laga. Kedua, ketika ada insiden kecil di kotak penalti Mesir yang melibatkan pemain Argentina, VAR dengan sangat cepat mengintervensi dan memberikan hadiah penalti yang dinilai sangat kontroversial. Bahkan gol Mesir yang telah terjadi beberapa menit harus dianulir karena VAR kontroversial di area pertahanan Mesir.
Penggunaan VAR yang tebang pilih ini memicu gelombang tagar seperti #FIFACorruption di media sosial paska kemenangan Argentina atas Mesir. Netizen merasa dikhianati karena teknologi yang diciptakan untuk meminimalkan kesalahan manusia justru digunakan secara selektif demi menguntungkan satu pihak.
Laga Final dan Retaknya Kepercayaan Publik
Fenomena hujatan netizen terhadap FIFA di Piala Dunia 2026 ini bukan sekadar luapan emosi sesaat atau ekspresi dari para pendukung yang kalah (haters). Ini adalah bentuk mosi tidak percaya dari masyarakat global terhadap integritas sebuah institusi sepak bola tertinggi dunia.
Ketika sepak bola digiring terlalu jauh ke dalam industri hiburan industri yang mementingkan rating, narasi "bintang utama", dan keuntungan finansial, maka nilai sportivitas terancah runtuh. Lionel Messi tidak diragukan lagi adalah salah satu pemain terbesar dalam sejarah bumi. Namun, ketika sistem di sekelilingnya terindikasi melakukan proteksi berlebihan dan tidak proporsional, prestasi tersebut justru ternoda oleh sinisme publik.
Piala Dunia 2026 di tiga negara ini mungkin akan sukses besar dari segi penjualan tiket dan eksposur bisnis. Namun, dari segi moralitas olahraga, FIFA membawa pulang rapor merah dari netizen dunia. Tantangan terbesar sepak bola ke depan bukanlah bagaimana memperbanyak jumlah peserta atau memperluas stadion, melainkan bagaimana mengembalikan kepercayaan pencinta sepak bola bahwa di atas lapangan hijau, semua negara dan semua pemain memiliki hak dan kedudukan yang sama di hadapan aturan main.
Kini pecinta bola di seliuruh dunia menantikan partai semifinal dan final. Apakah partai semifinal dan final Piala Dunia 2026 ini bisa berlangsung fair play? Semoga FIFA melihat dan mendengar kritik dan keluhan netizen di seluruh dunia. Aamin Ya Allah.
*Penulis adalah Akademisi FISIP Universitas Andalas dan Fans Timnas Prancis
Disclaimer: Opini dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi, bukan cerminan sikap redaksi. Tanggung jawab atas seluruh konten sepenuhnya berada pada penulis.
Muhammad Thaufan Arifuddin mengulas kontroversi Piala Dunia 2026 dan pentingnya menjaga integritas fair play sepakbola. (Foto: Dok.Pribadi).
-300x188.webp)







