Mahasiswa

Mahasiswa KKN-T Unhas Dorong Inovasi Pertanian dan Peternakan Berkelanjutan di Sidrap

PROKER. Mahasiswa KKN-T Unhas melaksanakan dua program kerja individu yang berfokus pada penguatan sektor pertanian dan peternakan berkelanjutan di Kelurahan Massepe, Kecamatan Tellu Limpoe, Sidrap. Kegiatan yang diinisiasi Hamdy Afify Ahmad dan Abigael tersebut diadakan pada Rabu (21/1/2026). (dok Hamdy Afify Ahmad)

SIDRAP, UNHAS.TV - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Inovasi Daerah Gelombang 115 Universitas Hasanuddin (Unhas) melaksanakan dua program kerja individu yang berfokus pada penguatan sektor pertanian dan peternakan berkelanjutan di Kelurahan Massepe, Kecamatan Tellu Limpoe, Sidrap.

Kegiatan tersebut diadakan pada Rabu (21/1/2026). Program pertama diinisiasi oleh mahasiswa Fakultas Peternakan Unhas, Hamdy Afify Ahmad. Kegiatan tersebut berupa sosialisasi pemanfaatan limbah pertanian menjadi pakan ternak alternatif. 

“Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh melimpahnya limbah tongkol jagung pascapanen yang selama ini kerap terbuang atau dibakar. Padahal, jika diolah dengan teknik yang tepat, limbah tersebut memiliki potensi sebagai sumber pakan bergizi bagi ternak,” ungkap Hamdy.

Dalam pelaksanaannya, Hamdy memberikan edukasi sekaligus praktik langsung kepada peternak. Tongkol jagung kering dihancurkan menggunakan mesin hingga menjadi serpihan halus, kemudian difermentasi dengan campuran larutan EM4 dan molase untuk meningkatkan nilai nutrisi serta daya simpan. 

”Melalui metode ini, peternak dapat memproduksi pakan secara mandiri, terutama saat musim kemarau ketika hijauan sulit diperoleh,” jelasnya.

Ia menilai, manfaat program tersebut tidak hanya berdampak pada efisiensi biaya produksi, tetapi juga mengurangi limbah pertanian di lingkungan sekitar. 

Pembuatan Pestisida Alami

Sementara itu, mahasiswa Fakultas Pertanian Unhas, Abigael, melaksanakan sosialisasi pembuatan pestisida alami sebagai solusi pengendalian hama yang lebih aman.

Program ini diinisiasi setelah melihat tingginya ketergantungan petani pada pestisida kimia yang berisiko merusak kesuburan tanah dan kesehatan lingkungan.

Dalam kegiatan tersebut, Abigael memperkenalkan berbagai bahan organik yang mudah ditemukan di sekitar warga, seperti kunyit, lidah buaya, dan bawang merah, yang dapat diolah menjadi pestisida alami.

Ia mendemonstrasikan secara langsung proses pembuatan larutan pestisida hingga siap diaplikasikan pada tanaman. 

”Selain itu, warga juga dibekali buku panduan sederhana berjudul ’Resep Pestisida Alami’ agar dapat mempraktikkannya secara mandiri,” tutur Abigael.

Ia menilai, program yang dijalankan akan memberikan manfaat signifikan kepada masyarakat, sebab dapat menekan biaya produksi pertanian, serta menjaga kualitas tanah dan hasil panen. 

(Achmad Ghiffary M / Unhas TV)