MAKASSAR, UNHAS.TV – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia mengalami musim kemarau dengan curah hujan di bawah normal pada 2026.
Di Sulawesi Selatan, sejumlah wilayah termasuk Makassar juga berada dalam periode musim kemarau yang diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus hingga September 2026.
Kondisi kemarau turut dirasakan mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas) yang tinggal di Rumah Susun Mahasiswa atau Asrama Mahasiswa (Ramsis).
Selain cuaca yang terasa panas, mahasiswa menghadapi kondisi air yang terkadang tidak mengalir sehingga harus menyesuaikan aktivitas dan menyiapkan persediaan air.
.webp)
Jelita, mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum, Fakultas Hukum. (Unhas TV/Athirah)
Jelita, mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum, Fakultas Hukum, yang telah tinggal di Ramsis sekitar satu bulan, mengatakan kondisi kemarau paling dirasakan dari cuaca yang panas dan ketersediaan air yang terkadang terhenti.
“Untuk kondisi kemarau saat ini, yang pertama tentu panas. Apalagi, di kamar saya masih belum menggunakan kipas karena saya belum menyiapkan kipas. Yang kedua, dari segi air, kadang airnya mati atau tidak tersedia,” ujar Jelita.
Jelita mengungkapkan, kondisi air di blok tempat tinggalnya memang sesekali sudah pernah mati sebelum memasuki musim kemarau. Namun, ketika air tidak tersedia, ia masih dapat mengambil air di blok lain untuk memenuhi kebutuhan.
“Di blok saya sebelum kemarau memang sudah pernah mati sesekali. Tetapi, di blok-blok lain masih tersedia air. Jadi, ketika saya ingin beraktivitas atau masuk kuliah, saya pergi ke blok lain untuk mendapatkan air,” ungkapnya.
Hal serupa dirasakan Rian Medina, mahasiswa Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya, yang telah tinggal di Ramsis hampir satu bulan. Ia mengatakan air yang terkadang mati membuat mahasiswa harus melakukan antisipasi.
“Untuk akhir-akhir ini, airnya kadang mati, terus kondisi di kamar juga terasa panas. Jadi, saya lebih banyak menggunakan kipas, termasuk pada malam hari,” kata Rian.
.webp)
Rian Medina, mahasiswa Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya. (Unhas TV/Athirah)
Untuk memenuhi kebutuhan air, Rian memilih membeli air galon dan menampung air sebelum aliran berhenti.
“Saya biasanya membeli air galon dan berhemat. Selain itu, biasanya saya mengambil dan menampung air dari kamar mandi sebelum airnya mati,” ujarnya.
Sementara itu, Vista Saginawijiria, mahasiswa Program Studi Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok, Fakultas Ilmu Budaya, mengungkapkan air yang tidak mengalir dapat menghambat aktivitas mahasiswa, terutama bagi mereka yang memiliki jadwal kuliah pada pagi hari.
“Selama musim kemarau ini, hal yang paling saya rasakan yaitu air yang kadang tidak jalan atau tidak mengalir. Kondisi tersebut membuat kami yang tinggal di Ramsis kesulitan untuk beraktivitas,” ungkap Vista.
Vista menjelaskan, kondisi tersebut cukup mengganggu persiapan sebelum kuliah. Ia bersama mahasiswa lainnya kemudian memilih menampung air pada malam hari untuk digunakan pada pagi berikutnya.
“Apabila kami ada jadwal kuliah pukul 07.30, kemudian air belum mengalir pada jam tersebut, tentunya itu sangat menghambat aktivitas kami di pagi hari untuk mempersiapkan diri dan pergi ke kuliah,” jelasnya.
“Biasanya, kami mengantisipasinya dengan mengisi air di ember pada malam hari. Jadi, ketika pagi atau subuh, kami masih memiliki air untuk mandi sehingga tidak terlambat melakukan aktivitas perkuliahan,” lanjut Vista.
Mahasiswa Berharap Ada Pemberitahuan
>> Baca Selanjutnya
KEKURANGAN AIR - Mahasiswa Unhas yang tinggal di Asrama Mahasiswa (Ramsis) Putri mengangkat air galon di Ramsis Unit 3, Kampus Unhas, Selasa (8/9/2026). Ramsis mengalami kekurangan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari dalam musim kemarau tahun ini. (Unhas TV/Athirah)



-300x141.webp)
-300x196.webp)



