Oleh: Irawan Yusuf*
Ketika menerima undangan untuk menjadi salah satu pembicara dalam bedah buku Mengapa Saya Mengikuti Ali karya Lexi Mailowa Budiman di Gedung Pertemuan Alumni (GPA), 6 juni 2026, perasaan pertama yang muncul justru bukanlah keyakinan, melainkan keraguan.
Saya bertanya kepada diri sendiri, apakah saya memiliki kapasitas yang memadai untuk membedah sebuah buku yang berbicara tentang perjalanan keyakinan, pencarian spiritual, dan pergulatan intelektual seseorang? Apalagi bidang keilmuan saya bukanlah teologi, sejarah Islam, ataupun filsafat agama. Saya bahkan sempat berseloroh, jangan-jangan yang mengundang saya sebagai narasumber juga tidak mengetahui alasan mengapa saya layak berada di forum ini.
Namun, sebagai seorang akademisi yang mengajar Behavioural Neuroscience di Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, saya mencoba mendekati buku ini dari sudut pandang yang berbeda. Jika seorang ahli bedah membedah tubuh manusia untuk menemukan sumber penyakit dan jalan penyembuhannya, maka membedah sebuah buku berarti menelusuri lapisan-lapisan motivasi, pengalaman, keyakinan, dan pergulatan batin yang mendorong seseorang menulis. Bedah medis berfokus pada tubuh manusia; bedah buku berfokus pada pikiran dan pengalaman manusia. Keduanya memiliki objek yang sama: manusia.
Membaca buku ini, saya melihat bahwa inti kisah yang disampaikan Lexi bukan sekadar tentang pilihan mengikuti Ali bin Abi Thalib, melainkan tentang perjalanan panjang manusia dalam mencari kebenaran. Perjalanan itu dimulai dari lingkungan keluarga yang sangat beragam dalam keyakinan, namun tetap mampu hidup dalam suasana damai dan saling menghormati. Bagi sebagian orang, keberagaman semacam itu mungkin dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Namun bagi sebagian lainnya, termasuk penulis, keberagaman itu melahirkan pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang agama, kebenaran, dan makna hidup.
Di sinilah saya menemukan sesuatu yang menarik. Banyak orang menerima perbedaan keyakinan sebagai sebuah misteri yang tidak perlu dijelaskan. Namun bagi Lexi, perbedaan itu bukanlah misteri, melainkan persoalan yang harus dicari jawabannya. Ada dorongan intelektual yang membuatnya tidak berhenti pada jawaban-jawaban sederhana. Ia memilih untuk bertanya, membaca, berdiskusi, dan menelusuri berbagai sumber hingga menemukan keyakinan yang menurutnya paling dapat dipertanggungjawabkan secara moral, spiritual, dan intelektual.
Dalam perspektif neurosains modern, kecenderungan untuk mencari jawaban tersebut bukanlah sesuatu yang kebetulan. Otak manusia pada dasarnya merupakan organ adaptasi. Fungsi utamanya bukan hanya mengendalikan tubuh, tetapi juga membantu manusia beradaptasi dengan lingkungan fisik, sosial, dan budaya yang terus berubah. Para ilmuwan seperti Michael Gazzaniga, Antonio Damasio, dan Matthew Lieberman menunjukkan bahwa sebagian besar kemampuan manusia untuk memahami diri sendiri, membangun keyakinan, dan menjalin hubungan sosial berakar pada jaringan saraf yang dikenal sebagai social brain atau otak sosial.
Otak sosial memungkinkan manusia memahami pikiran orang lain, membaca isyarat sosial, membangun kepercayaan, mengembangkan empati, dan membentuk identitas diri. Melalui proses yang berlangsung sejak masa kanak-kanak, manusia belajar memahami dunia melalui interaksi dengan keluarga, teman, lingkungan sosial, dan budaya tempat ia hidup. Karena itu, keyakinan seseorang tidak lahir dalam ruang hampa, melainkan merupakan hasil interaksi kompleks antara pengalaman hidup, refleksi intelektual, dan dinamika sosial yang membentuk cara pandangnya terhadap dunia.
Dalam konteks inilah saya melihat perjalanan yang diceritakan Lexi. Pencarian yang ia lakukan bukan hanya perjalanan teologis, melainkan juga perjalanan biologis dan psikologis yang sangat manusiawi. Ada proses evaluasi yang terus berlangsung di dalam dirinya; proses yang menghubungkan pengalaman masa lalu, informasi baru, emosi, serta nilai-nilai yang diyakini. Neurosains menyebut proses ini sebagai valuation process, yaitu mekanisme otak dalam memberikan makna terhadap berbagai pengalaman sehingga seseorang sampai pada keyakinan bahwa sesuatu itu benar, baik, atau layak diikuti.
Pilihan untuk mengikuti Ali bin Abi Thalib, sebagaimana digambarkan dalam buku ini, merupakan hasil dari proses pencarian yang panjang. Pilihan itu tidak lahir dari keterpaksaan, melainkan dari refleksi, pembelajaran, dan dialog yang berlangsung bertahun-tahun. Dalam psikologi kognitif, proses semacam ini berkaitan dengan cognitive flexibility atau fleksibilitas kognitif, yaitu kemampuan seseorang untuk meninjau kembali keyakinannya, mengevaluasi informasi baru, dan menyesuaikan pemahamannya ketika menemukan argumentasi yang lebih kuat.
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: mengapa Ali? Bukankah para sahabat Rasulullah memiliki keutamaan dan jasa yang luar biasa dalam sejarah Islam?Pertanyaan inilah yang menjadi inti pencarian penulis.
Buku ini menunjukkan bagaimana Lexi berusaha menjawab pertanyaan tersebut melalui pembacaan Al-Qur'an, hadis, sejarah Islam, serta berbagai literatur klasik dan modern. Ia mencoba memahami posisi Ali bukan hanya sebagai sepupu dan menantu Rasulullah, tetapi juga sebagai figur yang dalam pandangannya memiliki signifikansi spiritual dan intelektual yang sangat mendalam.
Tentu saja, sebagaimana banyak persoalan besar dalam sejarah, tidak semua fakta tersedia secara utuh dan terang. Sejarah sering kali menyisakan ruang kosong, perbedaan interpretasi, dan wilayah-wilayah yang masih menjadi perdebatan hingga hari ini. Namun justru di situlah letak pentingnya pencarian intelektual. Kebenaran tidak selalu ditemukan melalui jawaban yang sudah selesai, melainkan melalui keberanian untuk terus bertanya.

Seorang pembaca menatap jalan panjang pencarian kebenaran, memadukan ilmu pengetahuan, pengalaman sosial, refleksi intelektual, dan keyakinan spiritual dalam upaya memahami makna mengikuti Ali bin Abi Thalib sebagai pilihan yang lahir dari dialog antara hati, akal, dan nurani. (Ilustrasi ChatGPT).
Pada titik ini, saya melihat bahwa buku Mengapa Saya Mengikuti Ali sesungguhnya tidak hanya berbicara tentang Ali bin Abi Thalib. Buku ini berbicara tentang keberanian berpikir, keberanian mempertanyakan, dan keberanian mengikuti suara hati setelah melalui proses pencarian yang panjang. Ia adalah kisah tentang manusia yang berusaha menyelaraskan hati, akal, dan keyakinannya.
Di era ketika ilmu pengetahuan berkembang sangat cepat dan banyak misteri alam berhasil dijelaskan oleh sains, sebagian orang beranggapan bahwa filsafat dan agama tidak lagi diperlukan. Pandangan semacam ini pernah diungkapkan oleh fisikawan Stephen Hawking ketika menyatakan bahwa filsafat telah mati. Namun saya tidak sepenuhnya sepakat.
Sains memang mampu menjelaskan bagaimana alam bekerja, tetapi sains tidak selalu mampu menjawab mengapa manusia harus memilih suatu nilai, tujuan, atau jalan hidup tertentu. Di sinilah filsafat dan agama tetap memiliki peran yang tak tergantikan. Sains memberikan pengetahuan; filsafat memberikan kerangka berpikir; sedangkan agama memberikan makna dan orientasi moral.
Karena itu, saya memandang buku karya Lexi Mailowa Budiman ini sebagai contoh menarik tentang bagaimana pencarian spiritual dapat berjalan beriringan dengan pencarian intelektual. Ia menunjukkan bahwa keyakinan tidak selalu lahir dari dogma yang diterima begitu saja, tetapi dapat tumbuh melalui dialog antara hati, akal, pengalaman, dan refleksi yang mendalam.
Pada akhirnya, apakah seseorang akan sampai pada kesimpulan yang sama dengan penulis atau tidak, mungkin bukan persoalan utama. Yang lebih penting adalah keberanian untuk mencari, membaca, memahami, dan berpikir secara jujur. Sebab sejarah peradaban manusia selalu bergerak maju oleh mereka yang berani bertanya sebelum berani meyakini.
Dan dalam pengertian itu, perjalanan Lexi menuju Ali bukan hanya perjalanan seorang individu, melainkan cerminan dari perjalanan manusia mencari kebenaran.
*Penulis adalah Guru Besar pada Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin
Prof. Dr. dr. Irawan Yusuf, Ph.D. menegaskan bahwa pencarian kebenaran merupakan bagian dari fitrah manusia yang melibatkan dimensi intelektual, emosional, spiritual dan juga lingkungan. (Foto: Istimewa).
-300x169.webp)







