PANGKEP, UNHAS.TV - Pangkalan Udara Sultan Hasanuddin terus melakukan pengamatan udara menggunakan pesawat intai pada operasi SAR terhadap korban serta komponen penting pesawat yang dimiliki PT Indonesia Air Transpport ATR 42-500. Pesawat yang membawa 10 orang ini termasuk awak pesawat mengalami kecelakaan di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep.
Pengamatan udara ini terbukti mampu memetakan titik serpihan pesawat ATR 42-500. Penggunaan pesawat ini sudah dimulai sejak munculnya kabar pesawat tersebut dinyatakan hilang dari radar pemantau udara, 17 Januari 2026.
Pesawat yang dikerahkan yakni pesawat intai Boeing 737 sebanyak tiga pesawat serta satu helikopter Caracal. Menurut Komandan Lanud Hasanuddin Marsekal Pertama TNI Arifani Nur Dwiyanto, sejak menerima informasi pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport hilang kontak, pihaknya langsung melakukan pemetaan dan pengamatan udara menggunakan pesawat intai Boeing 737.
Alhasil, sejumlah serpihan pesawat berhasil terindentifikasi dan titik koordinat langsung dikirimkan kepada tim SAR gabungan untuk ditindaklanjuti melalui jalur darat.
Bahkan pesawat Boeing 737 terbang hingga empat kali dalam sehari untuk memantau lokasi pencarian sekaligus mengirimkan data cuaca terkini. Data cuaca tersebut menjadi bagian penting dalam mendukung upaya modifikasi cuaca karena kondisi alam dan cuaca ekstrem masih menjadi tantangan utama dalam proses pencarian dan evakuasi di kawasan Gunung Bawakaraeng.
Selain pengamatan udara, TNI Angkatan Udara juga menurunkan ratusan personel gabungan yang terdiri dari pasukan Kopasgat dan personel Lanud Sultan Hasanuddin. Jumlah keseluruhan sebanyak 257 orang diterjunkan untuk melakukan penyisiran di darat maupun mendukung operasi udara.
Lanud Sultan Hasanuddin menegaskan sikap terus memaksimalkan dukungan udara dan darat hingga seluruh korban serta komponen penting pesawat berhasil dievakuasi.(*)
Rahmatia Ardi (UNHAS TV)




-300x169.webp)


-300x200.webp)
