Sosial

Perempuan Unhas Memaknai Hari Kemerdekaan sebagai Ruang Berdaya dan Berkarya

Ketua DWP SPs Unhas Aslina Sukri (kiri) dan Anggota DWP FKM Unhas Andi Susilawaty Ruslan memaknai Kemerdekaan bagi perempuan. (Kolase Unhas TV / Venny Septiani)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Kemerdekaan bagi perempuan tidak berhenti pada terbebasnya bangsa Indonesia dari penjajahan. Tahun 2026 ini, Indonesia merayakan HUT Ke-81 Kemerdekaan RI.

Di tengah perubahan sosial dan tuntutan zaman, kemerdekaan juga dimaknai sebagai kesempatan untuk menyampaikan pendapat, mengembangkan kemampuan, berkarya, serta berkontribusi bagi keluarga dan masyarakat.

Pandangan itu mengemuka dalam kegiatan yang berlangsung di Aula Prof. Sirajuddin Beku, Lantai 2 Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin (FKM Unhas), Kampus Unhas Tamalanrea, Makassar, Rabu (5/8/2026).

Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, sejumlah perempuan di lingkungan Dharma Wanita Persatuan (DWP) Unhas menyampaikan pandangannya mengenai peran perempuan dalam mengisi kemerdekaan.

Ketua Dharma Wanita Persatuan Sekolah Pascasarjana (SPs) Unhas, Aslina Sukri, mengatakan peringatan kemerdekaan seharusnya dimaknai secara berbeda dan terus berkembang dari tahun ke tahun.

Menurut dia, perempuan tidak cukup hanya menjalankan perannya dalam rumah tangga, tetapi juga perlu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan nasional.

Kontribusi itu, kata Aslina, tidak harus selalu dilakukan melalui jabatan formal atau kegiatan berskala besar. Perempuan dapat mengambil peran dari lingkungan terdekat, terutama dengan mendidik anak, mendampingi generasi muda, serta mendorong mereka meningkatkan kapasitas dan keterampilan.

“Peran kita sebagai perempuan bukan hanya sebagai ibu rumah tangga, tetapi sekarang sudah harus memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan nasional, meskipun tidak secara langsung,” kata Aslina.

Ia menilai keluarga menjadi ruang pertama bagi perempuan untuk menanamkan nilai kedisiplinan, tanggung jawab, keimanan, dan semangat belajar. Melalui pola pengasuhan yang baik, perempuan dapat membentuk generasi yang mampu memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

Aslina juga mengingatkan perempuan agar tidak bersikap pasif. Menurut dia, ibu rumah tangga tetap memiliki posisi strategis karena bertanggung jawab menciptakan suasana keluarga yang aman dan nyaman.

Perempuan juga berperan membekali anak dengan pendidikan dan nilai keagamaan yang menjadi dasar dalam menghadapi perkembangan zaman.

Bagi perempuan yang bekerja atau aktif di luar rumah, tantangan yang dihadapi menjadi lebih kompleks. Mereka harus mampu menjaga keseimbangan antara tanggung jawab keluarga dan kegiatan profesional maupun sosial.

“Kalau itu bisa dimaksimalkan dan berjalan dengan baik, kita berharap perempuan bisa menjadi pahlawan bagi keluarganya dan pahlawan bagi lingkungan di sekitarnya,” ujar Aslina.

Kemerdekaan dari Rasa Rendah Diri

Anggota Dharma Wanita Persatuan Fakultas Kesehatan Masyarakat (DWP FKM) Unhas, Andi Susilawaty Ruslan, memaknai kemerdekaan sebagai kebebasan perempuan untuk berpendapat, menentukan sikap, dan melakukan kegiatan yang membuat dirinya lebih sehat serta berdaya.

Menurut Susilawaty, pemberdayaan harus dimulai dari diri sendiri. Perempuan yang memiliki rasa percaya diri, pengetahuan, keterampilan, dan kesehatan yang baik akan lebih mampu berkontribusi bagi keluarga serta masyarakat.

“Kemerdekaan itu adalah kemerdekaan berpendapat, kemerdekaan bersikap, dan kemerdekaan melakukan hal-hal yang menyenangkan supaya perempuan menjadi lebih sehat dan lebih berdaya untuk dirinya,” kata Susilawaty.

Ia mengatakan salah satu bentuk penjajahan yang masih dihadapi perempuan berasal dari dalam diri sendiri, seperti perasaan rendah diri, takut gagal, serta anggapan bahwa perempuan tidak mampu melakukan banyak hal.

Cara berpikir semacam itu, menurut dia, perlu ditinggalkan agar perempuan dapat mengembangkan potensi yang dimiliki.

Susilawaty menilai perempuan memiliki beragam talenta dan kemampuan menjalankan sejumlah pekerjaan dalam waktu bersamaan. Kemampuan tersebut merupakan kelebihan yang perlu terus diasah, distimulasi, dan didukung melalui pendidikan maupun kegiatan pengembangan kapasitas.

“Jangan merasa rendah diri dan jangan merasa tidak bisa melakukan apa-apa. Perempuan dilahirkan dengan talenta yang besar,” ujarnya.

Dharma Wanita Persatuan, menurut kedua perempuan tersebut, dapat menjadi salah satu wadah untuk meningkatkan kapasitas anggotanya.

Berbagai kegiatan sosial, seminar, pelatihan, dan program kesehatan dapat membantu perempuan memperoleh pengetahuan baru, meningkatkan keterampilan, serta memperluas jaringan sosial.

Organisasi itu juga dinilai berperan membangun kepercayaan diri dan kemampuan berorganisasi. Melalui kegiatan bersama, perempuan dapat saling mendukung dalam menghadapi tantangan peran ganda di rumah, tempat kerja, dan lingkungan sosial.

Semangat kemerdekaan, karena itu, tidak semestinya hanya dirayakan melalui kegiatan seremonial. Kemerdekaan perlu diwujudkan dalam keberanian perempuan menyampaikan gagasan, meningkatkan kualitas diri, mendidik generasi muda, serta menjadi penggerak perubahan di lingkungannya.

“Selamat merdeka untuk diri sendiri, untuk keluarga, dan untuk masyarakat,” kata Susilawaty.

(Venny Septiani Semuel / Unhas TV)