Lingkungan

Saat Dunia Krisis Pangan, Tanaman Ini Diyakini Penangkal Kelaparan

ENSET - Meskipun berada di rumpun yang sama, pisang dan enset memiliki perbedaan. Enset kini diteliti sebagai salah satu sumber pangan potensial. Foto: X @ErikSolheim

UNHAS.TV - Para ahli pangan dunia sedang disibukkan mencari tanaman pangan yang diyakini bisa mengurangi atau bahkan menjadi jalan keluar saat dunia sedang dilanda krisis pangan.

Tanaman seperti padi, jagung, dan gandum tidak dapat lagi diandalkan sepenuhnya untuk bisa memasok kebutuhan umat manusia di Bumi ini. Dibutuhkan sejumlah bahan pangan lainnya yang bisa menopang kebutuhan warga yang butuh makan di tengah ancaman krisis pangan.

Tamanan sukun dan sagu sudah masuk daftar penting di wilayah Asia, khususnya di Indonesia, karena dua tanaman ini lazim ditaman di Indonesia dan potensi produksinya masih bisa ditingkatkan. 

Namun, khusus di Afrika, terdapat satu tanaman yang layak disebut sebagai "tanaman penangkal kelaparan". Namanya: Enset, sejenis pisang. Warga Ethiopia menyebutnya sebagai "pisang super" karena ukurannya yang besar. Ada pula yang menamakan "tanaman ajaib" karena mampu tumbuh hingga ketinggian 10 meter .

Popularitasnya memang masih kalah jauh dibandingkan "tiga tanaman utama" yang memasok lebih dari separuh kebutuhan kalori dunia: padi, gandum, dan jagung. Namun, Enset yang mudah tumbuh di kawasan lainnya, puya potensi sebagai sumber pangan pelengkap atau bahkan bahan pangan pengganti padi, gandum, dan jagung.

"Dalam hal sifatnya yang serbaguna dan kemampuan adaptasinya, tanaman ini sungguh luar biasa," ujar ahli biologi konservasi dari Inggris, James Borrell, sebagaimana dikutip dari CNN.

Borrel baru mengetahui potensi Enset ini pada 2017 ketika baru memulai pekerjaannya di Taman Botani Kerajaan Inggris di Kew, London Barat. Taman seluas 320 hentare ini diisi lebih dari 17 ribu spesies tanaman. 

Enset masih satu rumpun dengan keluarga pisang (Musaceae). Ini adalah tanaman liar asli di berbagai negara di Afrika, mulai dari Sudan di utara hingga Mozambik di pesisir tenggara benua Afrika. Namun khusus di Ethiopia, Enset merupakan tanaman yang diistimewakan tetapi wilayah budidayanya hanya mencakup kawasan dataran tinggi di bagian barat daya negara itu. 

Tanaman ini ditemukan pada ketinggian antara 1.500 hingga 3.000 meter di atas permukaan laut. Enset memiliki daun-daun hijau sepanjang hingga 5 meter yang tumbuh dari batang utama di tengahnya. Buahnya berukuran lebih besar tetapi tidak bisa dimakan langsung karena banyak berisi biji hitam keras dan hanya menyisakan daging buah yang lezat. Makanya, ada yang menyebut Enzet sebagai pisang palsu.

Seperti halnya pisang, Enset adalah tanaman herba raksasa yang tidak memiliki jaringan kayu. Batang adalah batang semu yang terbentuk dari pelepah daun yang saling tumpang tindih dan terikat rapat; struktur inilah —bersama dengan "corm" (bagian akar bawah tanah yang berdaging dan menyerupai umbi raksasa)—yang dihancurkan, dicampur dengan ragi, lalu difermentasi di dalam lubang besar di bawah tanah.

Setelah jangka waktu antara tiga bulan hingga dua tahun, campuran hasil fermentasi tersebut diolah menjadi *kocho*, makanan pokok khas Ethiopia yang menyerupai roti. Produk sampingan dari proses penghancuran ini adalah "bulla", yaitu cairan yang diperas dari ampas berpati. Cairan ini dapat dipekatkan menjadi bubuk putih yang kemudian dapat dicampur kembali dengan air untuk membuat pangsit maupun bubur.

Namun, enset memiliki berbagai manfaat nyata. Tanaman ini menghasilkan panen yang melimpah serta tahan terhadap kekeringan dan penyakit. Hanya dengan 60 tanaman, kebutuhan pangan satu keluarga yang terdiri dari lima orang dapat terpenuhi selama setahun. 

Terlebih lagi, enset merupakan tanaman tahunan yang dapat terus tumbuh selama lebih dari dua tahun tanpa perlu ditanam ulang, sedangkan siklus hidup sebagian besar tanaman pangan dan biji-bijian utama (padi, gandum, dan jagung) berakhir hanya dalam satu musim tanam.(*)