Econotalks
Ekonomi

Sarjana Menganggur Bukan Semata Minim Lapangan Kerja, Guru Besar Unhas Soroti Budaya Pilih-pilih Pekerjaan

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin, Prof Dr Madris SE DPS MSi saat tampil dalam Econotalks. (Unhas TV / Andrea Ririn Karina)

MAKASSAR, UNHAS.TV – Fenomena sarjana menganggur kembali menjadi sorotan di tengah persaingan dunia kerja. Persoalan ini dinilai tidak hanya berkaitan dengan keterbatasan lapangan kerja, tetapi juga ekspektasi gaji, pilihan karier, dan kesiapan lulusan untuk memulai pengalaman profesional.

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin, Prof Dr Madris SE DPS MSi menilai pengangguran di kalangan sarjana tidak dapat semata-mata dikaitkan dengan rendahnya kualitas sumber daya manusia. 

Menurutnya, keputusan sebagian lulusan untuk menunda bekerja turut dipengaruhi oleh harapan pendapatan dan kecenderungan memilih pekerjaan tertentu.

Madris menjelaskan, sebagian sarjana masih memiliki sumber pendapatan di luar pekerjaan atau non-labour income. Kondisi tersebut memungkinkan mereka menunda memasuki dunia kerja sambil menunggu pekerjaan yang dinilai sesuai dengan ekspektasi gaji dan bidang yang diminati.

“Begini, Sarjana menganggur itu, saya katakan tadi, menganggur itu bagi Sarjana itu pilihan. Beda kalau tamatan SD atau tamatan SMP menganggur, itu bukan pilihan, itu terpaksa,” ungkap prof Madris.

Ia menuturkan, pencari kerja yang masih memiliki sumber pendapatan lain cenderung mempunyai keleluasaan untuk menunggu pekerjaan yang diinginkan. 

Sebaliknya, ketika sumber pendapatan tersebut mulai habis, mereka biasanya akan terdorong untuk segera bekerja.

Madris juga menegaskan bahwa fenomena tersebut tidak serta-merta menunjukkan rendahnya kualitas lulusan perguruan tinggi. 

Ia menilai kualitas sumber daya manusia, khususnya lulusan Universitas Hasanuddin, tetap memiliki daya saing ketika memasuki dunia kerja.

Menurutnya, persoalan pengangguran sarjana juga perlu dilihat dari kecenderungan pencari kerja dalam menentukan jenis pekerjaan dan lokasi kerja. 

Sejumlah peluang kerja yang tersedia belum tentu langsung diminati apabila tidak sesuai dengan harapan calon pekerja.

Ia mencontohkan adanya kebutuhan tenaga operator di sektor tertentu, termasuk di kawasan industri seperti Morowali. 

Namun, sebagian pencari kerja dinilai masih enggan mengambil peluang tersebut karena pertimbangan lokasi maupun jenis pekerjaan.

Kondisi ini menunjukkan adanya tantangan dalam mempertemukan kebutuhan dunia usaha dengan ekspektasi para lulusan perguruan tinggi. 

Karena itu, persoalan pengangguran sarjana tidak hanya berkaitan dengan jumlah lapangan kerja, tetapi juga kesiapan pencari kerja untuk menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar tenaga kerja.

Lebih lanjut, Madris mengimbau para lulusan baru agar tidak terlalu berfokus pada besaran gaji ketika memulai karier. 

Menurutnya, pengalaman kerja, penguasaan kompetensi, dan etos kerja merupakan modal penting untuk meningkatkan daya saing serta membuka peluang karier yang lebih luas.

“Kalau saya begini, kalau baru sarjana, jangan cari uang dulu, cari pengalaman dulu. Setelah punya pengalaman, pasti ditawar oleh dunia usaha.Dan dia bisa pindah dari satu industri ke industri yang lain, karena dia sudah punya pengalaman, sudah punya kompetensi, dan seterusnya,” tutur Madris.

Ia menambahkan, pekerjaan pertama dapat menjadi sarana bagi lulusan baru untuk membangun kompetensi dan memahami kebutuhan dunia profesional. 

Dengan pengalaman yang memadai, lulusan diharapkan memiliki peluang lebih besar untuk mengembangkan karier dan memperoleh pekerjaan yang lebih sesuai dengan kemampuannya.

Fenomena sarjana menganggur pun menjadi tantangan yang membutuhkan perhatian dari berbagai pihak. 

Selain memperluas kesempatan kerja, peningkatan kompetensi lulusan dan penguatan hubungan antara perguruan tinggi dengan dunia usaha diperlukan agar kebutuhan tenaga kerja dapat selaras dengan kemampuan serta kesiapan para pencari kerja.

(Andrea Ririn Karina / Unhas TV)