NEW YORK, MAKASSAR.UNHAS TV- Di tengah meningkatnya gelombang intoleransi di berbagai belahan dunia, peringatan Hari Internasional Melawan Islamofobia yang jatuh pada 15 Maret menjadi momentum penting bagi para pemimpin dunia untuk menyerukan perdamaian dan toleransi. Tahun ini, perhatian dunia tertuju pada pidato Sheikh Al-Azhar, Prof. Dr. Ahmed Al-Tayeb, yang menegaskan bahwa Islam adalah agama kedamaian dan keadilan (Emirates News Agency, 16/3.)
Pidato Prof. Dr. Ahmed Al-Tayeb, yang disampaikan oleh Duta Besar Mesir untuk PBB, Osama Abdel Khalek, di markas besar PBB di New York, menyoroti bahaya Islamofobia yang semakin merajalela. “Fenomena ini bukan hanya ketidakmasukakalan, tetapi juga ancaman nyata bagi perdamaian dunia,” tegasnya. Peringatan ini merupakan hasil upaya gigih negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dalam mendorong PBB untuk mengakui pentingnya melawan diskriminasi terhadap umat Muslim.
Islam: Agama Perdamaian dan Toleransi
Dalam pidatonya, Prof. Dr. Ahmed Al-Tayeb menggarisbawahi bahwa Islam menjunjung tinggi nilai kasih sayang dan koeksistensi damai. Kata “Islam” sendiri berasal dari akar kata “salam,” yang berarti damai. “Islam mengajarkan kehidupan yang harmonis di antara manusia, tanpa membedakan warna kulit, agama, bahasa, atau etnis,” ujarnya.
Sejarah panjang membuktikan bahwa umat Muslim telah hidup berdampingan dengan komunitas lain selama berabad-abad, menjunjung tinggi prinsip kebebasan beragama. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Al-Qur’an, “Tidak ada paksaan dalam agama” (QS. Al-Baqarah: 256), yang menegaskan bahwa keyakinan adalah hak setiap individu.
Islamofobia: Ancaman yang Berbahaya
Sheikh Al-Tayeb menyoroti bahwa Islamofobia muncul akibat ketidaktahuan dan distorsi sistematis terhadap ajaran Islam. Media dan kelompok ekstremis sayap kanan kerap menyebarkan narasi keliru yang mengaitkan Islam dengan kekerasan, meskipun fakta menunjukkan sebaliknya. “Ini adalah salah satu kebohongan terbesar dalam sejarah modern,” katanya.
Ia juga mengkritik eksploitasi aksi segelintir individu yang melakukan kekerasan atas nama Islam, yang kemudian digunakan sebagai alasan untuk mendiskreditkan seluruh komunitas Muslim. “Bagaimana mungkin agama yang mengajarkan persaudaraan dan keadilan dituduh sebagai sumber ekstremisme?” tanyanya retoris.