Oleh: Yusran Darmawan
"Hey Jude, don't make it bad..."
Puluhan ribu suara menyanyikannya hampir tanpa komando. Lagu yang ditulis Paul McCartney lebih dari setengah abad lalu itu kembali memenuhi stadion.
Bukan karena The Beatles sedang menggelar konser. Bukan pula karena para penonton sedang bernostalgia. Mereka sedang merayakan seorang anak berusia 23 tahun yang baru saja membawa Inggris ke semifinal Piala Dunia. Namanya Jude Bellingham.
Namun, ada satu pemandangan yang membuat malam itu terasa lebih indah daripada dua gol yang dicetaknya.
Ketika rekan-rekannya berlarian merayakan kemenangan, ketika para pendukung terus menyanyikan Hey Jude dari tribun, Bellingham justru berjalan ke arah yang berbeda. Ia mencari Erling Haaland.
Beberapa saat sebelumnya, mereka saling bertarung tanpa ampun. Bellingham mengenakan lambang Tiga Singa di dadanya, Haaland membawa mimpi seluruh Norwegia. Selama lebih dari sembilan puluh menit, keduanya adalah lawan yang tidak boleh saling mengalah.
Tetapi setelah peluit akhir, Bellingham tidak melihat Haaland sebagai pemain yang baru saja ia kalahkan. Ia melihat seorang sahabat. Mereka pernah tumbuh bersama di Borussia Dortmund. Mereka pernah berbagi ruang ganti, latihan, tawa, dan mimpi yang sama.
Kini, sepak bola menempatkan mereka di dua sisi yang berbeda. Yang satu melanjutkan perjalanan menuju semifinal. Yang lain harus pulang bersama kesedihan sebuah bangsa.
Hanya orang yang pernah sama-sama bermimpi yang benar-benar mengerti bagaimana rasanya kehilangan mimpi itu.
Bellingham menghampiri Haaland. Bukan untuk kamera. Bukan untuk menjadi berita. Melainkan karena ia tahu, kemenangan tidak pernah menghapus kewajiban seseorang untuk tetap menjadi manusia.
Kita sedang melihat sisi humanis Jude Bellingham. Beberapa hari sebelumnya, ia juga menjadi perhatian ketika berhenti untuk berbicara dengan seorang jurnalis penyandang disabilitas.
Ia mendekat, membungkukkan tubuhnya agar percakapan lebih mudah, lalu menjawab dalam bahasa Spanyol supaya lawan bicaranya memahami setiap kalimat yang ia ucapkan.
Gestur itu tidak menghasilkan gol. Tidak menambah statistik. Tetapi justru dari hal-hal kecil seperti itulah seseorang memperlihatkan ukuran dirinya. Bellingham tampaknya memiliki kemampuan yang mulai langka di tengah sepak bola modern: kemampuan untuk melihat orang lain.
Empati semacam itu terasa kontras dengan wajah lama sepak bola Inggris.
Selama puluhan tahun, negeri itu seperti hidup bersama bayang-bayangnya sendiri. Setiap turnamen selalu menghadirkan kembali luka lama: penalti Gareth Southgate, air mata Paul Gascoigne, kartu merah David Beckham, generasi emas yang gagal, dua final Euro yang berakhir dengan kecewa.
Sejarah berubah menjadi beban. Inggris bukan hanya melawan sebelas pemain di lapangan. Mereka juga melawan ingatan kolektif yang terus berbisik bahwa, cepat atau lambat, mereka akan kembali gagal.
Filsuf Denmark Søren Kierkegaard pernah menulis, "Life can only be understood backwards; but it must be lived forwards." Hidup hanya dapat dipahami dengan melihat ke belakang, tetapi harus dijalani dengan melangkah ke depan.
Inggris terlalu lama memahami hidup dengan menoleh ke belakang, tetapi lupa melangkah ke depan. Generasi Beckham, Gerrard, Lampard, Rooney, bahkan Harry Kane, selalu memikul beban sejarah itu. Setiap pertandingan besar terasa seperti kesempatan untuk menebus kegagalan generasi sebelumnya.
Jude Bellingham datang dengan cara pandang yang berbeda. Ia mengetahui sejarah Inggris, tetapi tidak membiarkan sejarah tinggal di kepalanya.
Ia tidak bermain untuk menebus Beckham. Ia tidak berlari demi memperbaiki penalti Southgate. Ia tidak mencetak gol untuk menghapus air mata Gascoigne. Ia bermain untuk menciptakan sejarahnya sendiri.
Ia terlihat begitu tenang dalam pertandingan-pertandingan besar. Ia tumbuh bukan hanya di Inggris, tetapi juga di Dortmund dan Madrid, dua kota yang mengajarinya bahwa tekanan bukan sesuatu yang harus ditakuti, melainkan sesuatu yang harus dihadapi.
Ketika dua golnya membawa Inggris ke semifinal, ia tidak merayakannya dengan kesombongan. Ia memilih mendatangi sahabat yang sedang kalah.
Justru di situlah Inggris menemukan harapan terbesarnya.
Selama puluhan tahun mereka mencari penyelamat yang mampu mencetak gol. Kini mereka mungkin menemukan sesuatu yang lebih penting: seorang pemimpin yang mengerti bahwa keberanian tidak hanya diukur dari bagaimana seseorang memenangkan pertandingan, tetapi juga dari bagaimana ia memperlakukan mereka yang kalah.
Di akhir pertandingan, Hey Jude masih terus bergema dari tribun.
Lagu itu pada mulanya ditulis Paul McCartney untuk menghibur Julian Lennon, seorang anak yang sedang menghadapi perpisahan kedua orang tuanya. Intinya sederhana: jangan tenggelam dalam kesedihan. "Take a sad song and make it better."
Bukankah itu pula yang sedang dilakukan Jude Bellingham kepada Inggris?
Selama puluhan tahun, sepak bola Inggris menyanyikan lagu yang sama, lagu tentang kegagalan, penyesalan, dan trauma yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Kini, seorang anak bernama Jude sedang mencoba mengubah nadanya. Ia mungkin belum membawa pulang trofi Piala Dunia.
Namun, pada malam ketika seluruh stadion menyanyikan namanya, ia telah menghadiahkan sesuatu yang tidak kalah berharga bagi bangsanya. Keberanian untuk berhenti takut kepada sejarah.
*Penulis adalah blogger, peneliti, dan knowledge strategist. Lulus di Unhas, UI, dan Ohio University. Kini tinggal di Bogor, Jawa Barat.
 Dr Anton Nugroho MM DS MA-300x169.webp)






-300x182.webp)
