Econotalks
Ekonomi
Mahasiswa

Membaca Masalah, Mencipta Peluang: Unhas Dorong Mahasiswa Bangun Bisnis Berbasis Inovasi

dosen pendamping Tim Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K) FreshPax dan Dosen FEB Unhas Dr Sinta Dewi Sugiharti Tikson SE MMgt. (Unhas TV / Mustika Syaharuddin)

MAKASSAR, UNHAS.TV – Perubahan lanskap dunia kerja membuat mahasiswa dituntut memiliki kemampuan lebih dari sekadar menjadi calon tenaga profesional.

Mereka juga didorong untuk mampu menciptakan inovasi, membangun usaha, dan menjadi bagian dari penggerak ekonomi melalui kewirausahaan.

Di tengah persaingan ekonomi yang semakin dinamis, kemampuan membaca persoalan di masyarakat menjadi modal penting bagi generasi muda.

Sebuah ide bisnis tidak hanya lahir dari tren pasar, tetapi juga dari kemampuan melihat kebutuhan yang belum terselesaikan dan menghadirkan solusi yang memiliki nilai ekonomi.

Namun, membangun usaha tidak berhenti pada keberanian memulai. Mahasiswa perlu memahami kebutuhan pasar, mengembangkan produk yang relevan, melakukan pengujian, serta mendapatkan dukungan ekosistem agar usaha yang dirintis dapat bertahan.

Hal tersebut menjadi pembahasan dalam program Econotalks bertema 'Mahasiswa Bisa Jadi Entrepreneur, Mulai dari Mana?' yang berlangsung di Studio Unhas TV, pada Rabu (23/9/2026).

Diskusi tersebut menghadirkan dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Hasanuddin  (Unhas) Dr Sinta Dewi Sugiharti Tikson SE MMgt sekaligus dosen pendamping Tim Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K) FreshPax.

Hadir pula Eky Sanjaya, mahasiswa Program Studi Ilmu Ekonomi Pembangunan Unhas sekaligus Ketua Tim PKM-K FreshPax.

Dalam forum tersebut, keduanya membahas tahapan membangun bisnis bagi mahasiswa, mulai dari menemukan persoalan, menciptakan inovasi, melakukan validasi pasar, hingga memastikan keberlanjutan usaha setelah program pengembangan selesai.

Sinta Dewi menjelaskan bahwa kewirausahaan tidak selalu dimulai dengan modal besar. Menurutnya, langkah awal seorang entrepreneur adalah kemampuan memahami persoalan yang terjadi di lingkungan sekitar.

Ia mengatakan banyak bisnis yang berkembang karena mampu memberikan solusi terhadap kebutuhan masyarakat. Karena itu, mahasiswa perlu mengubah cara pandang dalam melihat peluang usaha.

“Kalau kita ingin berwirausaha, kita harus mengidentifikasi masalah apa yang ingin kita selesaikan. Kemudian melakukan brainstorming dengan orang yang memiliki visi yang sama dan mencari pendamping yang memahami bagaimana mengembangkan ide tersebut menjadi nyata,” ujar Sinta.

Menurut dia, Universitas Hasanuddin telah menyediakan berbagai ruang pengembangan bagi mahasiswa yang ingin memasuki dunia kewirausahaan.

Di tingkat Fakultas Ekonomi dan Bisnis terdapat Student Entrepreneurship Center (SEC), sementara di tingkat universitas tersedia Program Mahasiswa Wirausaha (PMW).

Program tersebut menjadi salah satu jalur bagi mahasiswa untuk mengembangkan ide bisnis hingga mengikuti program nasional seperti Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW).

Meski fasilitas telah tersedia, Sinta menilai keberhasilan sebuah usaha tetap bergantung pada kesiapan mahasiswa menghadapi proses panjang dalam membangun bisnis.

“Berwirausaha itu tidak mudah. Banyak jatuh bangun, tantangan, rintangan, dan hambatan. Jadi mahasiswa harus memiliki mindset untuk terus berjuang,” katanya.

Salah satu contoh pengembangan ide bisnis berbasis persoalan masyarakat terlihat dari perjalanan Tim PKM-K FreshPax. Tim mahasiswa Unhas tersebut mengembangkan inovasi yang berangkat dari persoalan kehilangan dan pemborosan pangan atau food loss dan food waste.

Eky Sanjaya menjelaskan bahwa timnya tidak memulai proses dengan menentukan produk yang ingin dijual. Mereka terlebih dahulu mencari masalah yang dapat diberikan solusi.

“Hal yang kita hadirkan terlebih dahulu bukan tentang apa yang mau kita jual, tetapi apa yang mau kita selesaikan terlebih dahulu,” ujar Eky.

Melalui riset dan survei pasar, Tim FreshPax menemukan bahwa persoalan tersebut juga terjadi di Kota Makassar.

Kondisi itu kemudian mendorong mereka mengembangkan inovasi yang bertujuan memperpanjang masa simpan buah dan sayuran, khususnya komoditas yang mengalami proses pematangan setelah dipanen.

Bagi Eky, pengalaman tersebut memberikan pemahaman bahwa seorang entrepreneur harus memahami akar persoalan sebelum menciptakan sebuah produk.

Sebuah inovasi, menurutnya, tidak cukup hanya memiliki keunggulan teknologi. Produk tersebut harus mampu menjawab kebutuhan pengguna dan memiliki peluang diterima oleh pasar.

Validasi Pasar dan Dukungan Kampus 

>> Baca Selanjutnya