Field Notes
Program

Ruang Digital Jadi Arena Baru Penyampaian Kritik dan Solidaritas Masyarakat

FIELD NOTES - Mahasiswa Magister Antropologi FISIP Universitas Hasanuddin, Rio Putra Winanda saat tampil dalam Program Field Notes di Unhas TV, Juni 2026 lalu. (Dok Unhas TV)

UNHAS.TV – Perkembangan media sosial telah mengubah cara masyarakat menyampaikan aspirasi. Jika demonstrasi selama ini identik dengan aksi turun ke jalan, kini ruang digital menjadi arena baru bagi masyarakat untuk menyuarakan kritik, membangun solidaritas, hingga menyampaikan satir terhadap berbagai persoalan sosial dan politik.

Fenomena tersebut menjadi perhatian mahasiswa Magister Antropologi Universitas Hasanuddin, Rio Putra Winanda, yang tengah meneliti penggunaan simbol Jolly Roger dalam demonstrasi digital di Indonesia.

Menurutnya, media sosial telah menciptakan ruang publik baru yang memungkinkan masyarakat berpartisipasi dalam gerakan sosial tanpa harus hadir secara fisik.

"Kalau berbicara ruang digital, siapa pun bisa melakukannya. Bahkan ibu-ibu yang ada di Papua atau di ujung Sumatera semuanya bisa terhubung dalam satu ruang baru untuk menyampaikan opini dan kritik mereka," ujar Rio.

Ia menjelaskan, demonstrasi digital memberikan kesempatan yang lebih luas kepada masyarakat untuk menyampaikan aspirasi.

Berbeda dengan demonstrasi konvensional yang dibatasi ruang, waktu, dan jumlah peserta, ruang digital memungkinkan partisipasi berlangsung secara masif melalui berbagai platform media sosial.

Fenomena tersebut terlihat jelas ketika simbol Jolly Roger ramai digunakan masyarakat pada Agustus 2025. Tidak hanya dikibarkan dalam sejumlah aksi demonstrasi, simbol itu juga muncul sebagai foto profil jutaan pengguna media sosial hingga menjadi bagian dari berbagai unggahan yang berisi kritik terhadap kebijakan pemerintah.

"Pada awal Agustus sangat marak sekali penggunaan bendera Jolly Roger. Ketika peringatan 17 Agustus, yang seharusnya masyarakat mengibarkan bendera Merah Putih, ternyata mereka mengibarkan bendera Jolly Roger. Kemudian di media sosial, WhatsApp, Instagram, jutaan orang mengganti foto profil mereka menggunakan simbol tersebut," katanya.

Menurut Rio, fenomena tersebut menunjukkan bahwa bentuk demonstrasi telah mengalami perkembangan. Kritik tidak lagi selalu diwujudkan melalui aksi massa di jalan, tetapi juga melalui simbol, gambar, komentar, hingga unggahan di media sosial yang dapat diakses oleh publik secara luas.

"Sekarang demonstrasi tidak hanya dilakukan secara langsung di jalan. Ruang digital menjadi tempat masyarakat menyampaikan kritik melalui simbol-simbol yang mereka gunakan. Itu yang menarik untuk dikaji," ujarnya.

Ia menilai penggunaan simbol dalam ruang digital bukan sekadar mengikuti tren, tetapi menjadi media komunikasi yang mampu menyampaikan pesan tertentu kepada publik.

Dalam konteks Jolly Roger, simbol tersebut mengalami negosiasi makna ketika digunakan oleh berbagai kelompok dengan latar belakang yang berbeda.

"Saya memilih mengkaji negosiasi makna karena simbol ini belum tentu dimaknai sama oleh setiap orang. Ada yang melihatnya sebagai simbol One Piece, ada yang memaknainya sebagai simbol perlawanan terhadap pemerintah, dan ada juga yang sekadar ikut menggunakan karena sedang ramai," jelas Rio.

Keberagaman interpretasi tersebut menjadi salah satu karakter utama demonstrasi digital. Sebuah simbol dapat membawa pesan yang berbeda sesuai pengalaman, pengetahuan, dan kepentingan masing-masing pengguna media sosial.

Rio mencontohkan, bagi penggemar lama anime One Piece, Jolly Roger identik dengan perjuangan melawan ketidakadilan.

Namun ketika simbol tersebut digunakan dalam demonstrasi digital di Indonesia, maknanya berkembang menjadi representasi kritik terhadap kebijakan pemerintah maupun bentuk solidaritas antarwarganet.

"Kalau penggemar One Piece tentu mereka memahami bahwa simbol ini berkaitan dengan perjuangan melawan pemerintah dunia. Ketika simbol itu digunakan di Indonesia, ada makna baru yang sedang dinegosiasikan oleh masyarakat," katanya.

Munculnya Solidaritas Sosial

Selain kritik, penelitian awal Rio juga menemukan bahwa ruang digital menjadi tempat tumbuhnya solidaritas sosial.

Masyarakat yang tidak saling mengenal dapat menunjukkan dukungan terhadap isu yang sama hanya dengan menggunakan simbol, mengganti foto profil, atau membagikan konten yang serupa.

"Yang saya temukan bukan hanya kritik terhadap pemerintah. Ada juga solidaritas. Orang-orang yang tidak saling mengenal bisa menunjukkan keberpihakan mereka terhadap isu tertentu melalui simbol yang sama," ungkapnya.

Menariknya, kritik yang muncul di ruang digital tidak selalu disampaikan secara frontal. Banyak pengguna media sosial memanfaatkan humor, meme, maupun satir sebagai cara untuk menyampaikan pesan politik kepada publik.

"Yang paling menarik bagi saya justru satirnya. Kritik tidak selalu harus keras. Banyak masyarakat menyampaikan kritik melalui humor, meme, atau simbol-simbol tertentu sehingga lebih mudah diterima dan cepat menyebar," ujarnya.

Untuk memahami fenomena tersebut, Rio menggunakan pendekatan etnografi digital, yakni metode penelitian yang berfokus pada interaksi sosial di media digital.

Selama tiga bulan, ia akan mengamati aktivitas pengguna di Instagram, TikTok, dan YouTube guna melihat bagaimana simbol Jolly Roger diproduksi, digunakan, serta dimaknai oleh masyarakat.

"Pendekatan etnografi digital memungkinkan kita melihat bagaimana masyarakat berinteraksi di media sosial. Yang diamati bukan hanya unggahannya, tetapi juga komentar, respons, dan percakapan yang muncul di dalamnya," jelasnya.

Melalui penelitian tersebut, Rio berharap ruang digital semakin dipahami sebagai bagian dari kehidupan sosial masyarakat modern.

Menurutnya, media sosial bukan lagi sekadar sarana komunikasi, tetapi telah berkembang menjadi arena baru bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam kehidupan demokrasi.

"Kajian antropologi tidak hanya ada di dunia nyata, tetapi juga di ruang digital. Di zaman sekarang, separuh dari hidup kita sudah berada di ruang digital. Karena itu, ruang ini penting untuk dipahami sebagai bagian dari dinamika sosial masyarakat," tutupnya.

(Rahmatia Ardi / Unhas TV)