Opini

Seri Bumi dan Alquran (Hari 20 Ramadhan 1446 H), Glacial (Zaman Es): Pengontrol Kehidupan Bumi

Selain itu, letusan gunung api juga dapat melepaskan partikel ke atmosfer yang bisa menyerap atau memantulkan radiasi matahari, menyebabkan perubahan iklim sementara.

Faktor perubahan atmosfer juga menjadi penyebab pergantian zaman glasial dan interglasial, yaitu perubahan konsentrasi gas rumah kaca seperti karbon dioksida dan metana dapat memperkuat atau melemahkan efek rumah kaca, yang mempengaruhi suhu global. Partikel debu dan aerosol di atmosfer dapat memantulkan radiasi matahari, menyebabkan terjadinya pendinginan. 

Menarik untuk dikaji bagaimana Al-quran menggambarkan kondisi di zaman es ini. Secara geografi, Alquran diturunkan di daerah padang pasir atau gurun yang panas di Jazirah Arab dengan iklim yang panas dan kering. 

Lokasi ini sangat jauh dari kutub, tempat dimana es berkumpul. Namun, dibeberapa ayatnya, Alquran menyebutkan kondisi zaman es yang ditandai dengan suhu yang sangat dingin ini secara tersirat.

Surah Al-Imran ayat 117 berbunyi: "Perumpamaan harta yang mereka infakkan di dalam kehidupan dunia ini adalah ibarat angin yang mengandung hawa sangat dingin yang menimpa tanaman (milik) suatu kaum yang menzalimi diri sendiri, lalu (angin itu) merusaknya. Allah tidak menzalimi mereka, tetapi mereka yang menzalimi diri sendiri". 

Pengertian "ibarat angin yang sangat dingin" ini menggambarkan kondisi iklim yang sangat dingin yang mengacu ke zaman es. Ketika suhu sangat dingin, maka uap air di atmosfer akan berubah menjadi kristal es dan membentuk salju. 

Salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya pergantian zaman es dan zaman interglasial adalah adanya pergeseran posisi benua dan pembentukan pegunungan yang mempengaruhi pola arus laut dan angin, yang pada gilirannya mempengaruhi iklim. 

Dalam Surah An-Naml ayat 88, proses pergeseran posisi benua ini dijelaskan bahwa: "Engkau akan melihat gunung-gunung yang engkau kira tetap di tempatnya, padahal ia berjalan seperti jalannya awan. (Demikianlah) penciptaan Allah menjadikan segala sesuatu dengan sempurna. Sesungguhnya Dia Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan".  

Dalam penelitian modern dibuktikan bahwa pegunungan dapat memengaruhi pola curah hujan melalui efek orografis. Saat udara lembap naik menyeberangi pegunungan, udara mendingin dan kelembapan mengembun, menyebabkan hujan di sisi yang menghadap angin (sisi angin). 

Sisi yang menghadap angin akan lebih basah, sedangkan sisi yang menghadap ke arah angin (sisi bayang) akan lebih kering. Letusan gunung berapi juga dapat memengaruhi iklim global, karena dapat mengeluarkan gas dan abu yang dapat memblokir sinar matahari dan menyebabkan pendinginan sementara seperti perubahan musim yang terjadi pada Eropa dan Amerika Utara akibat letusan Gunungapi Tambora di tahun 1815 (baca Bumi dan Alquran edisi Ring of Fire dan Peradaban Manusia). 

Periode Pleistosen ini merupakan periode mulai munculnya kehidupan manusia purba dan kemudian terjadi migrasi ke seluruh dunia. Hal ini dimungkinkan setelah punahnya dinosaurus akibat terjadinya hujan meteor dan bumi dilanda kekeringan yang panjang. 

Pada surah An-Nahl ayat 65 dinyatakan bahwa: "Allah menurunkan air (hujan) dari langit dan dengannya (air itu) Allah menghidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang mendengarkan (pelajaran dengan perhatian dan penghayatan)". 

Ayat ini menggambarkan adanya perubahan iklim global dari glasial menuju interglasial dan menjelaskan bahwa air sangat penting bagi kehidupan awal manusia, baik di masa glasial di mana sebagian permukaan bumi ditutupi oleh es yang memungkinkan manusia purba bermigrasi untuk mencari makan dan bertahan hidup, ataupun zaman interglasial di mana muka air laut naik dan terbentuk lautan, samudera dan danau yang memisahkan beberapa tempat dimuka bumi. 

Pada surah Al-Mursalat ayat 27 juga digambarkan bagaimana kondisi glasial dimana gunung-gunung es menjadi sumber air tawar yang dibutuhkan oleh manusia. 

Ayat tersebut berbunyi: "Kami menjadikan padanya gunung-gunung yang tinggi dan memberi minum kamu air yang tawar". Keberadaan gunung-gunung mempengaruhi iklim global dan pada umumnya gunung-gunung yang ada di bumi tertutupi oleh es. Saat suhu naik maka es yang menutupi gunung tersebut mencair dan menjadi sumber air untuk daerah di sekitarnya. 

Zaman es juga menjadi tonggak penting dalam kehidupan manusia purba, di mana pada zaman ini sekelompok manusia purba melakukan perjalanan untuk menyambung hidup. 

Akibat proses migrasi ini, maka terbentuklah beberapa koloni atau kelompok-kelompok manusia purba seperti yang kita kenal sekarang antara lain di Pulau Jawa dikenal dengan nama Pithecantropus Erectus dan di China dikenal dengan Sinantropus Pekinensis. 

Zaman es membentuk jembatan yang menghubungkan daratan-daratan seperti Selat Bering yang memisahkan antara Rusia dan Amerika Utara dan Paparan Sunda di Asia yang menghubungkan daratan Asia dan kepulauan Nusantara. 

>> Baca Selanjutnya